Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Assalamualaikum, Hi All!

Di post kali ini aku mau sharing tentang pengalamanku mengikuti seleksi UFLP tahun 2018. UFLP atau Unilever Future Leader Program adalah program Management Trainee milik PT Unilever Indonesia yang lamanya sekitar 3 tahun. UFLP jadi salah satu program MT yang paling diidam-idamkan (bahkan aku udah ngidam dari masih semester 6), kenapa? Selain dimiliki oleh salah satu perusahaan multinasional terbesar di Indonesia, programnya juga benar-benar mengembangkan potensi kandidat-kandidatnya, sehingga di luar sana jebolan UFLP ini sangat bernilai. Benefitnya juga gak usah ditanya hehe

Pengalamanku ikut seleksi UFLP dimulai waktu aku masih tingkat akhir sekitar bulan Juli 2018. Di tahun itu, informasi pembukaan pendaftaran UFLP belum se-open sekarang, masih terbatas ke beberapa universitas. Aku mendapat informasi dari jarkoman di grup yang asalnya dari Direktorat Karir dan Pengembangan di kampusku. Saat itu aku sama sekali belum mendaftar pekerjaan ke manapun (jangan ditiru ya adik-adik, ini contoh yang tidak baik) karena penelitianku masih butuh 2-3 kali ulangan, dan itu cukup lama. Tapi waktu aku baca informasi UFLP ini, aku tergerak pengen daftar. Akhirnya aku apply dengan perasaan nothing to lose.

Proses pendaftarannya cukup simple, via link typeform dan kita tinggal isi kuisioner yang disediakan. Pertanyaannya seputar biodata (nama, kontak, background jurusan, IPK), pengalaman organisasi/leadership, pengalaman kerja, tanggal/perkiraan lulus, dan terakhir upload resume. Setelah isi form online ini kita akan dapet email kalau kita kita sudah berhasil daftar. Dua minggu kemudian di tanggal 16 Agustus, aku dapet email kalau aku lolos seleksi berkas. Email pemberitahuannya seperti berikut


Kebetulan networking lunch nya diadain di deket kampusku. Selain aku, ada 2 orang teman sejurusanku yang juga lolos ke tahap ini. Hal pertama yang dilakukan saat sampe di tempat networking lunch, aku diminta isi absen dan nulis namaku di label tom&jerry yang putih itu. Label nama ini ditempel di dada terus satu per satu kandidat di foto sama Mba HR nya. Dari list absen, aku lihat ada 21 orang yang seharusnya ikut networking lunch ini. Setelah kenalan dengan kandidat lain, ternyata mayoritas adalah anak-anak dari kampusku. Lalu prosesnya seperti apa?

Ada 3 meja yang di booking oleh Unilever di tempat makan itu. Satu meja diisi sama 7 kandidat, tapi di mejaku (meja 2) ada satu kandidat yang gak hadir. Acara diawali sama perkenalan oleh pihak HR, penjelasan program, dan seperti apa tahapan seleksi selanjutnya. Setelah itu ada 2 assessor yang ke meja kita, lalu kita kenalan dengan format nama, asal universitas, dan kalau kamu diminta jadi salah satu brand Unilever kamu mau jadi apa dan kenapa. Jawabanku: pengen jadi Pepsodent supaya bisa bikin orang lain percaya diri untuk tersenyum *EA. Habis kenalan, sesi selanjutnya makan siang, makan siangnya udah dibayarin sama Unilever dengan menu yang macem-macem, Alhamdulillah. Selama makan siang itu ada assessor yang duduk di meja kita sambil ngobrol tentang pengalaman mereka selama kerja di Unilever dan lain-lain. Menurutku sih waktu makan siang ini kita udah mulai dilirik-lirik sama assessor. Selanjutnya adalah sesi inti, sesi di mana kita paling diliat.

Prosesnya seperti interview hanya lebih informal, setiap meja akan diisi sama 3 assessor, 3 assessor ini akan rolling ke meja lainnya setelah 15-20 menit, jadi total ada 3 assessor yang akan ketemu kita. Di mejaku jumlah orangnya genap, jadi 1 assessor akan nanya ke 2 orang dalam waktu yang sama. Menurutku di tahap ini tempat duduk kalian bener-bener menentukan, kalau duduk sama orang-orang yang dominan kita harus lebih fight, sebaliknya kalau duduk sama orang yang cenderung diam, bisa jadi kita yang terlihat dominan. Apa jadi dominan itu salah? Engga, selama dominannya itu berkonten. Aku Alhamdulillah dapet temen sebangku yang sangat kooperatif jadi aku ngerasa sesi interview itu jadinya lebih kaya diskusi dibanding sekedar tanya jawab. Oiya di mejaku sesi ini full in Bahasa, di meja 3 juga, tapi di meja 1 full Inggris.  Pertanyaan-pertanyaan yang assessor ajukan selama sesi ini sebenarnya pertanyaan yang relatif, bukan kaya study case. Beberapa pertanyaan yang masih aku inget itu: 
- Menurutmu kelemahan Unilever itu apa sih?
- Menurutmu bisnis yang sustainable itu gimana sih?
- Kenapa kamu pengen terjun ke dunia marketing? Apa pernah ada ada pengalaman marketing sebelumnya?
Menurutku saat sesi ini kita bener-bener harus be yourself, jangan jaim, apalagi terlalu melebih-lebihkan. Selanjutnya acara penutupan oleh HR dan foto bareng. HR nya bilang kalau pengumuman ke tahap selanjutnya itu paling lambat seminggu kemudian.

Keesokan harinya, siang-siang aku dapet email, sebetulnya setelah pulang networking lunch itu aku udah hopeless banget, karena lihat kandidat lain bener-bener outstanding semua, tapi pas aku buka emailnya ternyata aku lolos ke tahap selanjutnya. Aku yang baru bangun siang agak gak percaya karena bisa lolos dan pengumumannya secepat itu. Aku tanya temen sejurusanku yang lain, sayangnya mereka gak lolos. Beberapa hari kemudian aku tau dari sesi networking lunchku ada 8 orang yang lolos ke Unilever Business Week (UBW). Empat orang dari meja aku (aku dan partner interviewku lolos), dua orang dari meja 1, dan dua orang lagi dari meja 3. 

UBW itu adalah proses terakhir dalam seleksi UFLP dan diadain selama tiga hari di Learning Centre Unilever di Mega mendung Puncak. Untuk UFLP GtM tahun 2018 ada 2 batch UBW (aku masuk di batch kedua). Setiap batch ada 30 kandidat yang ikut. Batchku sendiri waktu itu UBW nya berlangsung selama 4 hari 3 malam (Senin - Kamis) karena hari Selasa nya tanggal merah. Hari pertama semua kandidat kumpul di Grha Unilever sebagai meeting point dari jam 8 pagi. Grha Unilever ini adalah Head Officenya Unilever Indonesia yang kantornya keren banget dan fasilitasnya lengkap. Di sini aku bisa lihat kandidat-kandidat yang lolos ke tahap ini bener-bener manusia outstanding di universitasnya, bukan cuma universitas di Indonesia tapi ada juga beberapa kandidat yang merupaka lulusan luar. Kandidat yang tinggalnya di luar Jabodetabek semua akomodasinya ditanggung Unilever dan mereka udah disediain hotel di hari sebelumnya.

Dari pagi hingga siang acara diisi oleh seminar seputar customer development dan marketing di Unilever serta games yang tujuannya supaya semua kandidat kenal satu sama lain. Acara dilanjutkan dengan lunch dan office tour Lt.1. Setelah office tour, kita diminta bawa semua perlengkapan kita dan masuk ke bis untuk  melanjutkan sesi berikutnya yaitu market visit. Ada beberapa bis yang digunakan dan setiap bis akan pergi ke salah satu customer modern trade Unilever. Bisku pergi ke Giant BSD waktu itu. Di sana kita belajar tentang customer development, gimana tim CD membangun relasi dengan retail, gimana mereka mengatur strategi diskon, gimana mereka mengatur tampilan gondola, dan lain-lain. Setelah dari customer, bis selanjutnya pergi ke confess Walls. Confess itu seperti distribution centre khusus ice cream. Seingetku Unilever punya 2 sistem distribusi, ada yang cold dan dry, cold ini yang dipake untuk ice cream. Di confess kita diterangin gimana sistem distribusi ice cream dan kulkasnya dari DC sampai ke outlet, lihat gudang ice creamnya, dan lain-lain. Di hari pertama ini memang belum ada penilaian tetapi sangat berkesan karena banyak ilmu-ilmu baru yang aku dapet.

Setelah dari confess, bis selanjutnya berangkat ke Learning Centre nya Unilever. Setibanya di Learning Centre, kita dibagi kamar, ada kandidat yang tidur sendiri, ada juga yang berdua, tentu perempuan dan laki-laki dipisah. Setelah dinner, acaranya bebas, ada kandidat yang karaoke-an, ada yang ngemil sambil ngobrol, makin larut makin banyak yang mulai masuk kamar masing-masing dan tidur. Fasilitas di Learning Centre ini sangat lengkap, untuk keperluan pribadi kaya sabun, sikat gigi, shampo, bahkan handuk udah disediain di setiap kamar. Makanan yang disediain juga enak dan bergizi, makan 3 kali sehari, snack pagi menjelang siang, snack sore menjelang malem. Ada mesin kopi, kulkas yang selalu diisi sama susu dan buavita, ada kulkas walls yang ice cream nya selalu diisi ulang tiap hari dan bisa diambil semau kita, kolam renang, dan tempat fitness. Hari kedua, karena tanggal merah gak ada sesi penilaian dan acaranya bebas. Tapi pagi harinya, kita sempet dapet seminar dari Bu Irma Erinda tentang gimana bisa maksimalin potensi kita dengan liat kepribadian kita berdasarkan teori kepribadian DISC. Siangnya ada beberapa kandidat yang belajar bareng buat persiapan hari ketiga, ada yang karoke-an, main ke curug di deket learning centre, pokoknya macem-macem. Dari hari pertama, kita emang udah dikasih tau proses seleksi di learning centre itu nanti seperti apa, jadi di hari Selasa bisa mulai siap-siap.

Proses pertama di hari ketiga adalah excel test. Excel testnya ini diadain di auditorium, jadi serempak ngerjainnya. Kita dikasih 3 lembar soal yang isinya deskripsi, data, dan masalahnya, lalu di lembar terakhir ada 3 pertanyaan yang harus kita cari jawabannya pake formula di excel. Kalau engga salah waktu itu soalnya kaya forecast sales dan yang kita hitung di excel berapa perkiraan sales di periode selanjutnya. Setelah excel test proses selanjutnya adalah fgd, kita dibagi ke 6 grup, satu grup ada 5 orang. Lalu kita dapet soal study case dan kita diminta diskusiin problem solving secara grup. Setiap grup disediain 1 ruangan yang ada meja besarnya buat tempat diskusi. FGD nya dalam bahasa indonesia, meskipun casenya bahasa inggris. Assessor akan masuk ke ruangan dan menilai kita tapi kita diminta ngehiaruin assessor. Jadi seakan-akan kita diskusi aja sama temen tanpa ngerasa lagi dinilai. Durasi fgd sekitar 3 jam dan hasilnya dikumpulin dalam bentuk ppt. Seingetku FGD termasuk ppt nya selesai itu waktunya dari jam 9 sampai jam 12. Study casenya masih seputar strategi marketing, ada data sales yang disediain, ada masalah, dan beberapa peluang yang bisa kita pake, kita juga boleh ambil data tambahan dari sumber lain yang bisa mendukung ide kita, dan sebisa mungkin idenya itu feasible.

Setelah lunch, sesi selanjutnya ada presentasi grup dan pastinya dalam bahasa Inggris. Setiap grup mempresentasikan hasil diskusinya di depan board director Unilever (ada sekitar 20-30 assessor disini). Tentu ada sesi tanya jawabnya juga, kadang assessor juga menunjuk orang untuk menjawab. Malam harinya setelah dinner, kita dikumpulin  di ruang utama dan dikasih tau pengumumannya siapa aja yang lolos ke tahap selanjutnya. Jadi di UBW ini dari hari kedua ke hari ketiga ada proses filternya, kandidat yang lolos di hari kedua akan ngelanjutin proses seleksi ke hari ketiga, sementara yang nggak lolos tetep stay di learning centre dan mendapat feedback dari HR. Di batchku yang lolos ke hari ketiga ini ada 14 orang. Mereka yang 14 orang ini dapet study case lagi yang harus dikerjain malem itu juga dan dikerjain sendiri-sendiri.  Di hari berikutnya mereka akan presentasi gagasan mereka sendiri-sendiri juga. Sayangnya aku bukan termasuk kandidat yang lolos hehe. Di akhir hari ketiga, malam harinya, tim HR dan board director mengumumkan hasil finalnya dan dari sini ada 7 orang yang berhasil lolos UFLP.

Meskipun perjalananku hanya sampai hari kedua, tapi banyak banget pelajaran yang bisa aku ambil dari proses ini, seperti kita harus berani speak up, kalau mau mengungkapkan pendapat akan lebih baik jika based on data, fokus selama diskusi, belajar menghargai dan mengungkapkan pendapat kalian dengan proper meskipun itu bertentangan dengan partner kalian, dan banyak lagi. Dari sesi feedback dengan HR aku juga jadi tau kelemahanku dan apa aja yang bisa jadi potensiku kedepannya. Oiya dari UBW ini ada beberapa kandidat juga yang ditawarin untuk ikut program internshipnya Unilever (ULIP), ada juga 1 orang yang langsung di direct hire untuk jadi assistant manager. Kalau aku kebetulan di bulan Desember dikontak lagi untuk interview ULIP tapi di bagian Supply Chain dan Alhamdulillah aku berkesempatan ikut ULIP.

Sekian pengalamanku~
Tipsku untuk teman-teman yang mau mencoba UFLP adalah really prepare yourself, pray hard, do the best and GOOD LUCK ;) 

Honestly, I’ve been graduated since December 2018 ago. In this post I just want to share about my struggle through the college life until I graduated with an honorable mention.

Graha Widya Wisuda is a big hall that usually used as a place for graduation in my college. That day was special, with green long sleeve and black Toga, I accompanied my parents to their seat. Parents sit on the second floor while the graduates sit on the first floor. A few days before graduated, I’ve been called by student affair that I would be the most outstanding graduate from my faculty. It was mean my GPA was the highest among the other graduates. I was so happy to heard that, but I did not tell my parents about that, I want to make it as a surprise. Before I left my parents at their seat to walk to my seat, finally I tell my mom that I would be called as the most outstanding graduate from my faculty. My mom just smiled at me. She already knew how my struggle was to maintain my GPA as high as I can.

Graduation ceremony began with Indonesia Raya song. I throw back my memory to the first time I came to the college. August 2014 was the historical month for me, I was accepted by IPB University in the Department of Agroindustrial Technology (TIN IPB). Actually, TIN IPB was my second choice, my main choice was medical school because I want to be a doctor, but at that time I always failed to pass every medical school test. Honestly, it was hard to say that I enjoy my study in IPB. I remembered how tough it was to live in dormitory at my first year. Every new student in IPB must live in IPB dormitory and took Tingkat Persiapan Bersama (TPB) curriculums as their first-year study. Basically, the curriculums in TPB almost same with senior high school lesson yet much deeper. Therefore, I could follow the lesson faster and got GPA 4.00 in TPB (two semesters).

Although I got perfect scores, I still feel unsatisfied. I took medical school test again in my second year, but the result was same with the result in my first year. Despaired with medical school, I chosen to continue my study in IPB. At the second year, I start to get curriculums from my department like Introduction to Agroindustry, Agroindustrial Management, Supply Chain, Environmental Management, etc. Unexpectedly, I was very enjoyed to learn every subject that I got in my major. I become more active to joined some student organizations, moreover I ever got a role in strategic position at some organizations. To get more allowances, I also become private calculus mentor in a course place near my college. That allowance I used to take English Course because I realized that my English must be improved. Opportunity to traveling I also took when was in college by applied some scientific or marketing competitions from other university. Although I was not become finalist in every competition that I applied, but at least I ever travel to Semarang, Malang, even Thailand to become the finalist in the competition and presented the ideas I submitted before. Point plus joining competition like that was our accommodation is funded by our college :)

However, my study in IPB was not always smooth. I also got some gravels through my college life. It was seen from my historical GPA report, my GPA sometimes fallen down despite I’ve tried to keep up it. I often made mistake in my organizations like sometimes I could not manage my time, I ignored my responsibility, etc. I often lost in the competitions. I often forgot to do my homework. It could be said too that I a bit late to graduate. The most important for me, I got many lessons from everything I do or I got during my college. I realize 4 years was not a short time. It was a huge unforgettable and amazing experience. Now when I graduated, I just want to make it as precious memories that I can remembered. I want to make my knowledge that I got becomes useful for other people and my country, specially I can use it in my workplace later. Honestly, I really want to continue my journey to work in one of reputable FMCG Industry because I always curious about manufacturing processes and supply chain management. Yup, it is still my hope.

When Indonesia Raya has been finished, I turned my head to look at my parents. I sincerely thank to them for everything they have given to me, supports, prays, facilities, I know they really want to give the best for me. I hope that honorable mention could make them proud. I hope to myself too, I can meet my next journey soon so I am not bothering my parents again and I can be financially independent.
My beloved parents

My big family: Brothers, sisters, grandfather, uncle, aunt, cousins

The last but not least, my prudential man hehe

I am excited about lies ahead. Whatever I do in my next journey, I hope it is the best for me, I hope I can do with my whole heart. :)

Assalamualaikum readers :)

Sebagai mahasiswa semester akhir, gue - mungkin kalian juga, memang udah harus ngerancang abis lulus itu gue mau ngapain. Dulu gue sempet kepikiran pengen S2 dulu aja, soalnya kita juga tau Kemenkeu lagi gencar-gencarnya nyediain kuota LPDP yang banyak, tapi makin kesini gue ngerasa kalo otak gue butuh istirahat dari pembelajaran formal, jadi gue pengen nyari kerja dulu. Kebetulan jurusan gue ada di ranah industri, otomatis orientasi gue buat nyari kerja itu lebih ke arah industri, walaupun gue juga gak menutup kemungkinan buat kerja di pemerintahan. 

Mesin Roll Mill
Di postingan sebelumnya gue udah cerita terkait PKL di Bogasari. Postingan kali ini berisi cerita PKL gue di minggu kedua dan ketiga. Sesuai pembagian lokasi PL, gue ditempatin di Mill K&L bareng sama Lia dari Univ.Brawijaya, Nung sama Mita dari Univ. Mataram. Sebelumnya gue mau jelasin kalo di Bogasari Cilincing itu punya empat wilayah Mill. Nah mill gue termasuk mill wilayah 2. Masing-masing mill ngegiling gandum yang berbeda, otomatis tepung yang dihasilkan pun biasanya berbeda. Perbedaan ini sebenernya karena kapasitas mill itu sendiri dan seberapa banyak permintaan konsumen atas suatu brand tepung terigu. Misalnya brand yang paling banyak diminta konsumen itu segitiga biru, nah jadi mill yang dipake buat menggiling gandum segitiga biru juga harus yang kapasitasnya besar.

            

Mill K&L sendiri biasa dipake buat menggiling gandum buat tepung terigu brand Cakra Kembar, Cakra Kembar Industri, Segitiga Biru dan Segitiga Biru Roti. Kapasitas mill ini 33ton/jam, jadi setiap jamnya mill K&L bisa menggiling sampai 33 ton gandum. Minggu pertama di mill ini gue ketemu sama shift Cakra. Pembagian shift di Bogasari ada tiga, shift A jam 24.00-08.00, shift B 08.00-16.00, shift C 16.00-24.00. Shift Cakra itu nama buat tim shiftnya. Oiya Masing-masing wilayah mill dipimpin sama seorang Manager, kalo mill wilayah 2 itu dipimpin sama Pak Firman Ahmad Nasution. Orangnya ganteng deh , keliatan indo gitu ehehe, next posting gue tampilin foto beliau yaa. Terus manager punya tangan kanan, tiga orang deputy head miller, sesuai sama jumlah shift yang ada. Nah yang terjun langsung ke lapangan tiap saat dibawah deputy itu ada miller, foreman sebagai asisten miller, sama operator.
Deputy shift Kunci ini adalah Pak Leo, Millernya Pak Eko, Foremannya ada Pak Mulyono, Om Jack sama Pak Agus, terus operatornya ada Pak Wandi sama Pak Rizal. Di minggu kedua ini gue sama temen-temen satu mill khusus belajar tentang proses penggilingan gandum. Tapi jangan dikira prosesnya sederhana ya teman-teman. Ada banyak tahapan sebelum gandum bisa berubah jadi tepung terigu. Nah tahapannya itu ada pre-clining, first cleaning, second dampening, second cleaning, terus baru milling. Di shift ini gue diajarin sama Pak Mulyono atau yang biasa dipanggil om John. Beliau orangnya baik banget, sabar juga ngajarin kita, usianya sekitar 40 tahunan. Tapi karyawan-karyawan yang lain juga gak kalah baik dan sabar. Entah kenapa dari tiga shift yang ada, gue paling nyaman dan bisa masuk belajarnya sama shift ini.

Gue mulai ceritain gimana perjalanan si gandum ya teman-teman. Jadi setelah gandum disimpen di silo, miller bakal mesen gandum buat digiling. Gandum terus masuk ke bagian atas mill. Mill K&L punya enam lantai lho btw, dan harus naik untuk mencapai kelima lantainya L Dari situ terus gandum dibersihin pake alat yang namanya separator, nah tahap ini namanya proses pre-cleaning. Terus masuk ke proses fisrt cleaning gandum dibersihin lagi dan kotoran-kotorannya. Maksudnya dibersihin disini bukan dicuci ya teman-teman, tapi diseparasi/dipisahin pake mesin-mesin yang emang buat ngebersihin. Dari hasil pre-cleaning sama cleaning ini banyak banget benda-benda selain gandum, atau kalo di Bogasari disebutnya offal, ada kedelai, biji bunga matahari, batu, potongan sandal jepit, pokoknya aneh-aneh deh wkwk Nah offal-offal ini gak langsung dibuang, kalau batu sama benda-benda non edible itu biasanya dikarunngin dulu, tapi kalo kedelai, tangkai gandum, dll yang edible itu diancurin terus dibikin pellet. Pembuatan pelletnya ada sendiri di departemen pelletizing. Jadi bisa dibilang Bogasari itu gak ngeluarin limbah sama sekali.
Waktu belajar proses first cleaning ini gue diajarin dari lantai paling atas. Dari tiap lantai ke lantai selanjutnya itu kita harus melewati 2x20 anak tangga, jadi kalian bisa itung sendiri ya banyaknya :”) Kerasa banget lho pas nyampe rumah wkwk. Nah pas di first cleaning ini ada tahapan dimana gandum dicipratin air, istilahnya dampening, fungsinya biar si kulit gandum itu jadi liat dan gampang buat digiling. Abis dari first cleaning terus ke second dampening, disini gandum dicipratin air lagi, tapi dengan jumlah yang lebih sedikit. Terus baru deh masuk ke second cleaning, kalo di proses ini sih gandum lewat mesin scourer yang fungsinya buat ngilangin telur kutu yang mungkin masih kebawa abis proses second dampening. For your information, jadi tepung terigu pun kerap jadi makanan buat kutu-kutu. Tapi tenang di Bogasari ada alatnya khusus kok buat misahin telur kutu sekaligus sama kutu-kutunya dari gandum maupun dari tepung yang udah diproduksi.
 Walaupun cuma dua proses tapi gue butuh waktu satu minggu buat mengerti :”) kadang gue mikir ini guenya yang gak nyampe atau emang prosesnya yang terlalu sulit dimengerti ya. Iya sesulit mengerti dia L Untung Pak Mul, Om Jack, Pak Agus sabaaaaarrrr banget ngajarin kita wkwk Oiya gue juga belajar beberapa control proses, ada empat control proses yang dilakuin di mill, yaitu pekar test buat seberapa banyak ash content, Release test buat ngukur seberapa halus gilingan, Granulasi test buat liat apa masih ada kulit gandum (bran) yang ada d tepung, sama additive test buat ngukur laju additive yang masuk ke tepung. Pake zat additive? Iya, pake semacam zat besi yang ditambahin ke tepung terigu sesuai standard SNI, nah buat Segitiga Biru Roti aditivenya ditambah pake zat pengembang, biasanya tepung brand SBR ini dipesen khusus sama perusahaan macem Bread Talk, Dunkin, dan teman-temannya. Makanya roti-roti yang dijual mereka enak-enak, salah satunya dari formulasi tepung terigu yang mereka pake.

Release Test
Berlanjut ke minggu ketiga gue ketemu sama shift Kunci Biru dimana orangn-orangnya itu ada Pak Singgih sebagai deputy, Pak Kombiana sebagai miller, Foremannya ada pak Damuri, Pak Ramli, sama Mas Aji yang masih MA (managerial apprentice), terus operatornya ada Pak Lili sama Pak Robi. Di minggu ketiga ini gue belajar proses milling gandum. Beuh! Prosesnya itu lho! Lebih-lebih ribet dari proses cleaning. Ada banyak tahap terus mesinnya banyak, gede-gedenya. Waktu pertama gue liat flowsheetnya pun, gue Cuma bisa bilang “Ini prosesnya mulai dari mana ya?” wkwkwk. Nah di shift ini orangnya juga enak-enak, terutama Mas Aji yang kalo nerangin nyambung sama kita, engga den sama Lia doang wkwk. Jadi mas aji itu masih MA, atau kalo diperusahaan lain itu MT namanya, nah mas ini lulusan tekpang UNS angkatan 2011. Kalo masnya udah lulus MA nanti jabatannya langsung jadi miller. Lamanya MA di Bogasari itu 2-3 tahunan, 1 tahun full di kelas, sisanya di lapangan, terus kalian juga digaji setingkat foreman kalo ikut MA ini. Tapi sayangnya, lowongan buat MA perempuan sangat-sangat terbatas hehe mungkin karena ada shift malemnya dan memang semua pekerjaan disini itu berhubungan sama mesin-mesin yang cukup berbahaya.

Beda dari minggu kedua, di minggu ini gue main ke mill D&E yang masih bagian mill wilayah 2 juga. Bedanya mill D&E khusus ngegiling gandum durum yang tepungnya itu buat bikin spageti, warna gandumnya lebih kuning terus lebih panjang juga. Tepung yang dihasilin pun warnanya kuning dan gak sehalus tepun terigu pada umumnya. Mill D&E ini masih manual mesin-mesinnya. Kalau di K&L semua mesin bisa kita pantau di layar komputer terus kalau mau nyalain tinggal klik satu tombol di komputer, nah kalau di D&E mesinnya dinyalain manual satu-satu wkwk. Di mill ini gue ngulang belajar dari tahap first cleaning lagi, dan dari lantai 6 lagi :” Pernah suatu hari gue sama Mita pergi ke rooftopnya Mill D&E, baguuuuss banget, deket banget sama silo, dan tinggi yang pasti. Jadi selama di Bogasari gue suka deh main-main ke tempat tinggi, padahal mah takut juga sebenernya wkkwkwk.

Pemandangan dari lantai 6 Mill D&E
Gak kerasa udah tiga minggu gue PKL di Bogasari, banyak banget hal menyenangkan selama tiga minggu ini, setiap jam makan siang gue selalu nungguin susu coklat, ngeliatin Mas Ardi (baca chapter sebelumnya wkwk) pas jam makan siang atau jam pulang, naik—naik ke tempat tinggi, ngerayain ulang tahun Lia sama shift Kunci, ngobrol sama Mas Aji, ngambiil germ yang katanya bisa buat mulusin kulit wajah wkwk dan masih banyak lagi. Minggu berikutnya bakal lebih seru lagi pasti. Jadi keep reading! ;)



           Seperti mahasiswa semester 6 pada umumnya, gue juga melakukan yang namanya PKL atau kampus gue menyebutnya PL (Praktik Lapangan). Kegiatan belajar di luar jam kuliah ini tujuannya biar gue bisa tau kondisi nyata di lapangan dan hubungannya sama teori yang udah didapat di kuliah. Pemilihan lokasi PL sebenernya bebas, tapi gue milih di Bogasari karena cukup dekat dengan rumah (Bekasi-Cilincing lumayan lah ya), jadi gue gak perlu ngekos dan menambah beban orang tua buat bayar biaya kos selama PL. Singkat cerita gue mengambil topik PL “Produksi Bersih”, kalau mahasiswa yang kuliahnya berhubungan sama industri dan lingkungan pasti ngerti maksudnya, jadi semacam upaya pencegahan pembentukan limbah industri dan pemakaian sumberdaya secara efisien. Kabetulan proses produksi yang ada di Bogasari itu dari hulu ke hilir ada di satu tempat, jadi gue rasa bisa mencakup topik PL gue ini.
            Bogasari menerima peserta PL secara terbuka, asalkan kita gak telat mengajukan proposal, soalnya dalam sebulan kuota maksimalnya cuma 35 orang. PL di sini dimulai tiap tanggal pertama di bulan yang bersangkutan. Kalau gue ikut PL periode 1-31 Agustus 2017, jadi hari pertama gue masuk tanggal 1 Agustus. Jam kerja buat anak PKL di sini sama seperti jam kerja pegawai pabrik (bagian produksi) yaitu jam 08.00-16.00 WIB. Hari pertama diawali dengan kegiatan induksi, kegiatan pengenalan tentang profil umum bogasari, prosedur K3, sama sistem jaminan mutu, gak kalah pentingnya pembagian kelompok untuk hari selanjutnya. Kegiatan induksi ini diisi oleh Pak Gomez, Bapak dari departemen HRD yang memang mengurusi kami, anak-anak PKL. Bapak ini berperawakan gemuk dengan wajah khas Sumatera Utara, beliau orang yang cukup santai walaupun setiap kali gue telepon ke Bogasari waktu masih masa mencari tempat PL beliau gak pernah mau ngangkat, bahkan beberapa teman PKL yang sudah dulu masuk memanggil beliau dengan sebutan “Om” hahaha.
Di akhir kegiatan Pak Gomez membacakan dengan siapa kita akan bekerja dan di mana. Gue sekelompok dengan Lia mahasiswi Brawijaya, Mita dan Nung yang merupakan mahasiswi Universitas Mataram. Tempat kami PL di Mill wilayah 2. Mill adalah stasiun penggilingan gandum menjadi tepung terigu, Bogasari sendiri mempunyai lima wilayah Mill, wilayah satu sampai empat ada di pabrik Cilincing, sedangkan wilayah lima ada di Cibitung. Masing-masing mill mempunyai dua sampai empat bagian. Di mill gue sendiri ada empat bagian, yaitu mill K,L,D dan E, tapi fokus PL gue di mill K dan L. Kegiatan induksi selesai tepat jam empat sore, padahal gue berharap bisa pulang cepet. O iya, di hari pertama ini gue berangkat masih pake transportasi umum, kereta a.k.a Commuter line Jabodetabek, gue harus berangkat jam 4.45 dari rumah, itupun harus ngejar kereta ke Tj.Priok yang cuma ada jam 6.30. Bahkan gue baru nyampe rumah jam 8.30 malem di hari itu karena jalanan ibu kota yang macetnya Nauzubillah.
Hari kedua pun gue masih naik kereta, tapi dengan lebih handal, dan gue berhasil sampe Bogasari 45 menit lebih awal. Minggu pertama ini kegiatannya fieldtrip, jangan kalian kira pabrik Bogasari cuma sepetak dan prosesnya sederhana, butuh berhari-hari buat mengerti alur proses disini dan menghafal tempat-tempatnya. Di hari kedua ini gue dan teman-teman PKL mengunjungi departemen FMP (Fluor Mixing and Packing), bagian pabrik yang mengemas tepung ukuran ekonomis dan memproduksi tepung cepat saji (Chesa). Kesan pertama ketika gue masuk ke bagian ini adalah WANGI SUSU! Iya, tepung untuk produksi Chesa memang ditambah beberapa aditif seperti vanilla untuk membentuk karakteristiknya. Bangunan bagian ini terdiri dari delapan lantai, dan gue belajar dari bagian gedung paling tinggi, rasanya cukup berat buat gue yang punya bobot badan sedikit lebih ini :’) di lantai atas ada head silo, silo itu tempat penyimpanan sementara tepung, bentuknya silinder. Kebetulan di hari itu sedang ada pembersihan silo jadi gue bisa liat di dalamnya kaya gimana. Ya kaya gini


Setelah dari departemen FMP gue pergi ke bagian Export Section, bagian ini khusus menangani tepung-tepung untuk diekspor ke negara lain, misalnya Vietnam. Tepung untuk ekspor mempunyai standard mutu yang berbeda dengan tepung untuk konsumsi lokal, jadi pengemasannya dipisah. Hari kedua cukup melelahkan karna harus naik ke  lantai delapan tapi cukup ngebuka mata gue gimana sebenarnya kondisi di pabrik yang selama ini cuma gue denger dari cerita dosen di kelas. Hal yang paling gue seneng di hari kedua ini gue sampe rumah dua jam lebih awal dari sebelumnya karena gue berhasil naik mobil jemputan Bogasari. Alhamdulillah.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya dimana gue harus pergi ke stasiun, hari ketiga ini gue menunggu mobil jemputan di daerah Komsen, Jatiasih, Bekasi, tepat sebelum masuk pintu tol Jatiasih. Kalau dua hari kemarin gue berangkat jam 4.45 hari ini dengan bangga gue berangkat jam 6.00 haha, dan gue nyampe Bogasari satu jam lebih awal. Melanjutkan kegiatan fieldtrip yang sesungguhnya, di hari ketiga gue dan teman-teman mengunjungi departemen Pellet Silo dan Jetty A, Pellet Silo adalah tempat penyimpanan pellet sementara (produk samping, berupa bran dan pollard gandum yang biasanya digunakan untuk pakan ternak) sementara Jetty A adalah dermaga khusus untuk mengangkut pellet ke dalam kapal. Pellet yang diproduksi Bogasari juga diekspor ke beberapa negara, kalau di dalam negeri sendiri dipakai sama Japfa dan pakan-pakan sapi buat susu Indomilk. Silo buat pellet lebih tinggi dari silo yang ada di departemen FMP, letaknya juga di luar ruangan. Seperti ini penampakannya
Pellet Silo

Pellet yang udah disimpan di silo akan dikeluarkan kalau ada mobil truk atau kapal penjemput pellet. Pellet ini dijualnya secara curah, jadi pellet akan disalurkan melalui conveyor ke Jetty kemudian dimasukkan ke dalam kapal. O iya, semua proses di Bogasari sebagian besar sudah otomatis, jadi sedikit sekali campur  tangan manusia di produknya. Nah di Jetty ini ada dua neuero (menara tempat pellet keluar), sebenarnya pada awal berdirinya Bogasari, Jetty A juga dipakai untuk mengangkut gandum, tapi karena dasar laut Jakarta yang semakin tinggi kapal-kapal pembawa gandum itu gak bisa lagi bersandar di Jetty A. Kita anak-anak PKL diajak naik ke atas neuero, walaupun agak ngeri tapi gue cukup menikmati pemandangan ini, walaupun laut Jakarta gak ada jernih-jernihnya, tapi gue seneng bisa liat kapal asing berlalu lalang di laut yang deket banget sama tempat gue berdiri. Sungguh sesederhana itu bahagiaku :’) Hari ketiga ini makin menyenangkan ketika di Pellet A kita dijelasin sama Kak Ardi, hmm usianya beda 5 tahun, kakak ini lagi training di Bogasari dan sedang menunggu untuk ditempatkan menjadi kepala seksi (kasi), tampangnya cukup tegas, dan gak ngebosenin buat diliat wkwk jadi bisa nangkep materi lebih cepat hehehe. Ini nih pemandangan dari atas neuero.
It’s Friday, hari Jumat, hari keempat gue PKL di Bogasari. Hari keempat ini gue pergi ke Jetty B dan Wheat Silo. Jetty B itu adalah dermaga tempat unloading (penerimaan) gandum dari kapal untuk dikirim ke silo gandum (wheat silo). Ukuran jetty B lebih besar dari jetty A dan lebih dekat dengan laut lepas. Foto yang gue pakai di bagian paling atas itu diambil di bagian ini. Neuero yang ada di jetty ini juga lebih besar dan lebih tinggi, gue cuma berani naik sampai lantai ketiga, karna tangga yang kita naikin itu terbuat dari besi berongga, jadi ketika naik, lo bisa liat dalamnya laut di bawah kaki lo. Jetty B juga jaraknya paling jauh dari bagian pabriknya, bahkan gue dan temen-temen harus naik mobil salah satu karyawan dulu untuk sampe kesana. Sayangnya waktu kita kesana gak ada kapal pengangkut gandum yang bersandar, jadi kita gak bisa liat proses unloadingnya secara langsung. Menurut bapak yang menjelaskan waktu itu, lebih seru ketika kita bisa melihat kapal, konon palka (gudang tempat penyimpan gandum di kapal/perut kapal) bisa dipake buat konser saking besarnya. Bogasari memiliki beberapa kapal yang memang dipakai untuk mengangkut gandum, utamanya dari Kanada, Australia, dan Amerika, tapi mereka lebih sering menyewa kapal, jadi ABK (anak buah kapal) banyak yang bule. Sayang seribu saying gak bisa lihat kapal, gagal main titanic-titanic-an.
Sementara silo gandum letaknya bersebelahan sama silo pellet, jadi kalau berdiri di antara dua silo itu kaya berdiri di antara dua gedung pencakar langit. Silo gandum lebih tinggi, lebih banyak, dan lebih kokoh. Di sini kita juga diajak naik oleh Pak Bekti, pembimbing lapangan kita hari itu, tapi naiknya pakai lift khusus barang, gak pakai tangga karena pasti gak bakal ada yang kuat haha. Tingginya silo gandum ini mencapai 220 meter, ketika sampe di atas gue ngeliat ke bawah kaya ngeliat rumah-rumahan monopoli, kecil-kecil dan padat. Menurut gue hari paling menyenangkan selama seminggu itu, ya hari jumat ini, lebih seru. Gue juga gak menyia-nyiakan kamera hp buat mengabadikan momen ini, buat diupdate juga di snapgram ehehe

             
Last day in this week, Saturday. Di hari kelima ini gue mengunjungi departemen FSBP (Fluor Silo and Bulk Packaging), bagian pabrik yang menangani penyimpanan sementara tepung dan pengemasan tepung ukuran 25kg dan tepung curah untuk industri. Bedanya dengan departemen FMP, departemen ini punya mesin yang lebih besar dengan kapasitas yang lebih besar pula. Kalau di FMP masih banyak tenaga kerja yang membantu proses pengemasan, kalau di departemen ini lebih sedikit. Bahkan ada mesin yang bisa ngambil karung, nuangin terigu, ngejait karungnya sekaligus, dan semua mesin itu dikontrol cuma dari layar berukuran 14 inch yang ada di samping mesin, hebat nian yang bikin mesin dan kodingan sistemnya. Di departemen ini gue juga ngeliat proses penggudangan tepung-tepung yang udah dikemas. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tetep naik-naik tangga, kali ini sampai ke lantai delapan. Silo tepung ada di dalam ruangan, jadi ketika ada di lantai paling atas itu udaranya panas banget, apalagi mesin terusan dari silo sebelum sampai ke bagian pengemasan punya intensitas suara yang cukup tinggi, sekitar 90db, jadi cukup pengang, tapi kita dikasih ear plug kok sama Bogasrinya, ya Cuma sedikit budek aja paling. Berbeda dengan hari sebelumnya yang pulang jam 16.00, di hari ini gue pulang lebih cepet yaitu jam 14.00, tapi kenyataannya gue tetep nyampe rumah jam 17.00 karna gue naik busway dan macet di tol Bekasi Barat. Bekasi oh Bekasi.

Makanan empat sehat enam lebih komplit

           Sejauh ini PL di Bogasari mengasyikan sih, kita bener-bener dijelasin sedetail mungkin, bahkan pembimbing lapangannya juga mancing-mancing kita buat nanya. Setiap jam istirahat pun kita dapet makan empat sehat lima sempurna, lengkap pake susu sama buah dingin, buat anak kosan kaya gue itu nikmat Tuhan yang tidak bisa didustakan :’) sekalian perbaikan gizi juga disini. Walaupun gak dibayar tapi menurut gue cara mereka melayani anak-anak PKL disini patut diajungi jempol, tapi lo harus siap jalan jauh dan mau naik-naik tangga kalo PKL disini.  Fieldtrip minggu ini selesai, dan gue gak sabar masuk departemen Mill di hari senin nanti. See you!