Assalamualaikum, Hi All!

Di post kali ini aku mau sharing tentang pengalamanku mengikuti seleksi UFLP tahun 2018. UFLP atau Unilever Future Leader Program adalah program Management Trainee milik PT Unilever Indonesia yang lamanya sekitar 3 tahun. UFLP jadi salah satu program MT yang paling diidam-idamkan (bahkan aku udah ngidam dari masih semester 6), kenapa? Selain dimiliki oleh salah satu perusahaan multinasional terbesar di Indonesia, programnya juga benar-benar mengembangkan potensi kandidat-kandidatnya, sehingga di luar sana jebolan UFLP ini sangat bernilai. Benefitnya juga gak usah ditanya hehe

Pengalamanku ikut seleksi UFLP dimulai waktu aku masih tingkat akhir sekitar bulan Juli 2018. Di tahun itu, informasi pembukaan pendaftaran UFLP belum se-open sekarang, masih terbatas ke beberapa universitas. Aku mendapat informasi dari jarkoman di grup yang asalnya dari Direktorat Karir dan Pengembangan di kampusku. Saat itu aku sama sekali belum mendaftar pekerjaan ke manapun (jangan ditiru ya adik-adik, ini contoh yang tidak baik) karena penelitianku masih butuh 2-3 kali ulangan, dan itu cukup lama. Tapi waktu aku baca informasi UFLP ini, aku tergerak pengen daftar. Akhirnya aku apply dengan perasaan nothing to lose.

Proses pendaftarannya cukup simple, via link typeform dan kita tinggal isi kuisioner yang disediakan. Pertanyaannya seputar biodata (nama, kontak, background jurusan, IPK), pengalaman organisasi/leadership, pengalaman kerja, tanggal/perkiraan lulus, dan terakhir upload resume. Setelah isi form online ini kita akan dapet email kalau kita kita sudah berhasil daftar. Dua minggu kemudian di tanggal 16 Agustus, aku dapet email kalau aku lolos seleksi berkas. Email pemberitahuannya seperti berikut


Kebetulan networking lunch nya diadain di deket kampusku. Selain aku, ada 2 orang teman sejurusanku yang juga lolos ke tahap ini. Hal pertama yang dilakukan saat sampe di tempat networking lunch, aku diminta isi absen dan nulis namaku di label tom&jerry yang putih itu. Label nama ini ditempel di dada terus satu per satu kandidat di foto sama Mba HR nya. Dari list absen, aku lihat ada 21 orang yang seharusnya ikut networking lunch ini. Setelah kenalan dengan kandidat lain, ternyata mayoritas adalah anak-anak dari kampusku. Lalu prosesnya seperti apa?

Ada 3 meja yang di booking oleh Unilever di tempat makan itu. Satu meja diisi sama 7 kandidat, tapi di mejaku (meja 2) ada satu kandidat yang gak hadir. Acara diawali sama perkenalan oleh pihak HR, penjelasan program, dan seperti apa tahapan seleksi selanjutnya. Setelah itu ada 2 assessor yang ke meja kita, lalu kita kenalan dengan format nama, asal universitas, dan kalau kamu diminta jadi salah satu brand Unilever kamu mau jadi apa dan kenapa. Jawabanku: pengen jadi Pepsodent supaya bisa bikin orang lain percaya diri untuk tersenyum *EA. Habis kenalan, sesi selanjutnya makan siang, makan siangnya udah dibayarin sama Unilever dengan menu yang macem-macem, Alhamdulillah. Selama makan siang itu ada assessor yang duduk di meja kita sambil ngobrol tentang pengalaman mereka selama kerja di Unilever dan lain-lain. Menurutku sih waktu makan siang ini kita udah mulai dilirik-lirik sama assessor. Selanjutnya adalah sesi inti, sesi di mana kita paling diliat.

Prosesnya seperti interview hanya lebih informal, setiap meja akan diisi sama 3 assessor, 3 assessor ini akan rolling ke meja lainnya setelah 15-20 menit, jadi total ada 3 assessor yang akan ketemu kita. Di mejaku jumlah orangnya genap, jadi 1 assessor akan nanya ke 2 orang dalam waktu yang sama. Menurutku di tahap ini tempat duduk kalian bener-bener menentukan, kalau duduk sama orang-orang yang dominan kita harus lebih fight, sebaliknya kalau duduk sama orang yang cenderung diam, bisa jadi kita yang terlihat dominan. Apa jadi dominan itu salah? Engga, selama dominannya itu berkonten. Aku Alhamdulillah dapet temen sebangku yang sangat kooperatif jadi aku ngerasa sesi interview itu jadinya lebih kaya diskusi dibanding sekedar tanya jawab. Oiya di mejaku sesi ini full in Bahasa, di meja 3 juga, tapi di meja 1 full Inggris.  Pertanyaan-pertanyaan yang assessor ajukan selama sesi ini sebenarnya pertanyaan yang relatif, bukan kaya study case. Beberapa pertanyaan yang masih aku inget itu: 
- Menurutmu kelemahan Unilever itu apa sih?
- Menurutmu bisnis yang sustainable itu gimana sih?
- Kenapa kamu pengen terjun ke dunia marketing? Apa pernah ada ada pengalaman marketing sebelumnya?
Menurutku saat sesi ini kita bener-bener harus be yourself, jangan jaim, apalagi terlalu melebih-lebihkan. Selanjutnya acara penutupan oleh HR dan foto bareng. HR nya bilang kalau pengumuman ke tahap selanjutnya itu paling lambat seminggu kemudian.

Keesokan harinya, siang-siang aku dapet email, sebetulnya setelah pulang networking lunch itu aku udah hopeless banget, karena lihat kandidat lain bener-bener outstanding semua, tapi pas aku buka emailnya ternyata aku lolos ke tahap selanjutnya. Aku yang baru bangun siang agak gak percaya karena bisa lolos dan pengumumannya secepat itu. Aku tanya temen sejurusanku yang lain, sayangnya mereka gak lolos. Beberapa hari kemudian aku tau dari sesi networking lunchku ada 8 orang yang lolos ke Unilever Business Week (UBW). Empat orang dari meja aku (aku dan partner interviewku lolos), dua orang dari meja 1, dan dua orang lagi dari meja 3. 

UBW itu adalah proses terakhir dalam seleksi UFLP dan diadain selama tiga hari di Learning Centre Unilever di Mega mendung Puncak. Untuk UFLP GtM tahun 2018 ada 2 batch UBW (aku masuk di batch kedua). Setiap batch ada 30 kandidat yang ikut. Batchku sendiri waktu itu UBW nya berlangsung selama 4 hari 3 malam (Senin - Kamis) karena hari Selasa nya tanggal merah. Hari pertama semua kandidat kumpul di Grha Unilever sebagai meeting point dari jam 8 pagi. Grha Unilever ini adalah Head Officenya Unilever Indonesia yang kantornya keren banget dan fasilitasnya lengkap. Di sini aku bisa lihat kandidat-kandidat yang lolos ke tahap ini bener-bener manusia outstanding di universitasnya, bukan cuma universitas di Indonesia tapi ada juga beberapa kandidat yang merupaka lulusan luar. Kandidat yang tinggalnya di luar Jabodetabek semua akomodasinya ditanggung Unilever dan mereka udah disediain hotel di hari sebelumnya.

Dari pagi hingga siang acara diisi oleh seminar seputar customer development dan marketing di Unilever serta games yang tujuannya supaya semua kandidat kenal satu sama lain. Acara dilanjutkan dengan lunch dan office tour Lt.1. Setelah office tour, kita diminta bawa semua perlengkapan kita dan masuk ke bis untuk  melanjutkan sesi berikutnya yaitu market visit. Ada beberapa bis yang digunakan dan setiap bis akan pergi ke salah satu customer modern trade Unilever. Bisku pergi ke Giant BSD waktu itu. Di sana kita belajar tentang customer development, gimana tim CD membangun relasi dengan retail, gimana mereka mengatur strategi diskon, gimana mereka mengatur tampilan gondola, dan lain-lain. Setelah dari customer, bis selanjutnya pergi ke confess Walls. Confess itu seperti distribution centre khusus ice cream. Seingetku Unilever punya 2 sistem distribusi, ada yang cold dan dry, cold ini yang dipake untuk ice cream. Di confess kita diterangin gimana sistem distribusi ice cream dan kulkasnya dari DC sampai ke outlet, lihat gudang ice creamnya, dan lain-lain. Di hari pertama ini memang belum ada penilaian tetapi sangat berkesan karena banyak ilmu-ilmu baru yang aku dapet.

Setelah dari confess, bis selanjutnya berangkat ke Learning Centre nya Unilever. Setibanya di Learning Centre, kita dibagi kamar, ada kandidat yang tidur sendiri, ada juga yang berdua, tentu perempuan dan laki-laki dipisah. Setelah dinner, acaranya bebas, ada kandidat yang karaoke-an, ada yang ngemil sambil ngobrol, makin larut makin banyak yang mulai masuk kamar masing-masing dan tidur. Fasilitas di Learning Centre ini sangat lengkap, untuk keperluan pribadi kaya sabun, sikat gigi, shampo, bahkan handuk udah disediain di setiap kamar. Makanan yang disediain juga enak dan bergizi, makan 3 kali sehari, snack pagi menjelang siang, snack sore menjelang malem. Ada mesin kopi, kulkas yang selalu diisi sama susu dan buavita, ada kulkas walls yang ice cream nya selalu diisi ulang tiap hari dan bisa diambil semau kita, kolam renang, dan tempat fitness. Hari kedua, karena tanggal merah gak ada sesi penilaian dan acaranya bebas. Tapi pagi harinya, kita sempet dapet seminar dari Bu Irma Erinda tentang gimana bisa maksimalin potensi kita dengan liat kepribadian kita berdasarkan teori kepribadian DISC. Siangnya ada beberapa kandidat yang belajar bareng buat persiapan hari ketiga, ada yang karoke-an, main ke curug di deket learning centre, pokoknya macem-macem. Dari hari pertama, kita emang udah dikasih tau proses seleksi di learning centre itu nanti seperti apa, jadi di hari Selasa bisa mulai siap-siap.

Proses pertama di hari ketiga adalah excel test. Excel testnya ini diadain di auditorium, jadi serempak ngerjainnya. Kita dikasih 3 lembar soal yang isinya deskripsi, data, dan masalahnya, lalu di lembar terakhir ada 3 pertanyaan yang harus kita cari jawabannya pake formula di excel. Kalau engga salah waktu itu soalnya kaya forecast sales dan yang kita hitung di excel berapa perkiraan sales di periode selanjutnya. Setelah excel test proses selanjutnya adalah fgd, kita dibagi ke 6 grup, satu grup ada 5 orang. Lalu kita dapet soal study case dan kita diminta diskusiin problem solving secara grup. Setiap grup disediain 1 ruangan yang ada meja besarnya buat tempat diskusi. FGD nya dalam bahasa indonesia, meskipun casenya bahasa inggris. Assessor akan masuk ke ruangan dan menilai kita tapi kita diminta ngehiaruin assessor. Jadi seakan-akan kita diskusi aja sama temen tanpa ngerasa lagi dinilai. Durasi fgd sekitar 3 jam dan hasilnya dikumpulin dalam bentuk ppt. Seingetku FGD termasuk ppt nya selesai itu waktunya dari jam 9 sampai jam 12. Study casenya masih seputar strategi marketing, ada data sales yang disediain, ada masalah, dan beberapa peluang yang bisa kita pake, kita juga boleh ambil data tambahan dari sumber lain yang bisa mendukung ide kita, dan sebisa mungkin idenya itu feasible.

Setelah lunch, sesi selanjutnya ada presentasi grup dan pastinya dalam bahasa Inggris. Setiap grup mempresentasikan hasil diskusinya di depan board director Unilever (ada sekitar 20-30 assessor disini). Tentu ada sesi tanya jawabnya juga, kadang assessor juga menunjuk orang untuk menjawab. Malam harinya setelah dinner, kita dikumpulin  di ruang utama dan dikasih tau pengumumannya siapa aja yang lolos ke tahap selanjutnya. Jadi di UBW ini dari hari kedua ke hari ketiga ada proses filternya, kandidat yang lolos di hari kedua akan ngelanjutin proses seleksi ke hari ketiga, sementara yang nggak lolos tetep stay di learning centre dan mendapat feedback dari HR. Di batchku yang lolos ke hari ketiga ini ada 14 orang. Mereka yang 14 orang ini dapet study case lagi yang harus dikerjain malem itu juga dan dikerjain sendiri-sendiri.  Di hari berikutnya mereka akan presentasi gagasan mereka sendiri-sendiri juga. Sayangnya aku bukan termasuk kandidat yang lolos hehe. Di akhir hari ketiga, malam harinya, tim HR dan board director mengumumkan hasil finalnya dan dari sini ada 7 orang yang berhasil lolos UFLP.

Meskipun perjalananku hanya sampai hari kedua, tapi banyak banget pelajaran yang bisa aku ambil dari proses ini, seperti kita harus berani speak up, kalau mau mengungkapkan pendapat akan lebih baik jika based on data, fokus selama diskusi, belajar menghargai dan mengungkapkan pendapat kalian dengan proper meskipun itu bertentangan dengan partner kalian, dan banyak lagi. Dari sesi feedback dengan HR aku juga jadi tau kelemahanku dan apa aja yang bisa jadi potensiku kedepannya. Oiya dari UBW ini ada beberapa kandidat juga yang ditawarin untuk ikut program internshipnya Unilever (ULIP), ada juga 1 orang yang langsung di direct hire untuk jadi assistant manager. Kalau aku kebetulan di bulan Desember dikontak lagi untuk interview ULIP tapi di bagian Supply Chain dan Alhamdulillah aku berkesempatan ikut ULIP.

Sekian pengalamanku~
Tipsku untuk teman-teman yang mau mencoba UFLP adalah really prepare yourself, pray hard, do the best and GOOD LUCK ;) 

Honestly, I’ve been graduated since December 2018 ago. In this post I just want to share about my struggle through the college life until I graduated with an honorable mention.

Graha Widya Wisuda is a big hall that usually used as a place for graduation in my college. That day was special, with green long sleeve and black Toga, I accompanied my parents to their seat. Parents sit on the second floor while the graduates sit on the first floor. A few days before graduated, I’ve been called by student affair that I would be the most outstanding graduate from my faculty. It was mean my GPA was the highest among the other graduates. I was so happy to heard that, but I did not tell my parents about that, I want to make it as a surprise. Before I left my parents at their seat to walk to my seat, finally I tell my mom that I would be called as the most outstanding graduate from my faculty. My mom just smiled at me. She already knew how my struggle was to maintain my GPA as high as I can.

Graduation ceremony began with Indonesia Raya song. I throw back my memory to the first time I came to the college. August 2014 was the historical month for me, I was accepted by IPB University in the Department of Agroindustrial Technology (TIN IPB). Actually, TIN IPB was my second choice, my main choice was medical school because I want to be a doctor, but at that time I always failed to pass every medical school test. Honestly, it was hard to say that I enjoy my study in IPB. I remembered how tough it was to live in dormitory at my first year. Every new student in IPB must live in IPB dormitory and took Tingkat Persiapan Bersama (TPB) curriculums as their first-year study. Basically, the curriculums in TPB almost same with senior high school lesson yet much deeper. Therefore, I could follow the lesson faster and got GPA 4.00 in TPB (two semesters).

Although I got perfect scores, I still feel unsatisfied. I took medical school test again in my second year, but the result was same with the result in my first year. Despaired with medical school, I chosen to continue my study in IPB. At the second year, I start to get curriculums from my department like Introduction to Agroindustry, Agroindustrial Management, Supply Chain, Environmental Management, etc. Unexpectedly, I was very enjoyed to learn every subject that I got in my major. I become more active to joined some student organizations, moreover I ever got a role in strategic position at some organizations. To get more allowances, I also become private calculus mentor in a course place near my college. That allowance I used to take English Course because I realized that my English must be improved. Opportunity to traveling I also took when was in college by applied some scientific or marketing competitions from other university. Although I was not become finalist in every competition that I applied, but at least I ever travel to Semarang, Malang, even Thailand to become the finalist in the competition and presented the ideas I submitted before. Point plus joining competition like that was our accommodation is funded by our college :)

However, my study in IPB was not always smooth. I also got some gravels through my college life. It was seen from my historical GPA report, my GPA sometimes fallen down despite I’ve tried to keep up it. I often made mistake in my organizations like sometimes I could not manage my time, I ignored my responsibility, etc. I often lost in the competitions. I often forgot to do my homework. It could be said too that I a bit late to graduate. The most important for me, I got many lessons from everything I do or I got during my college. I realize 4 years was not a short time. It was a huge unforgettable and amazing experience. Now when I graduated, I just want to make it as precious memories that I can remembered. I want to make my knowledge that I got becomes useful for other people and my country, specially I can use it in my workplace later. Honestly, I really want to continue my journey to work in one of reputable FMCG Industry because I always curious about manufacturing processes and supply chain management. Yup, it is still my hope.

When Indonesia Raya has been finished, I turned my head to look at my parents. I sincerely thank to them for everything they have given to me, supports, prays, facilities, I know they really want to give the best for me. I hope that honorable mention could make them proud. I hope to myself too, I can meet my next journey soon so I am not bothering my parents again and I can be financially independent.
My beloved parents

My big family: Brothers, sisters, grandfather, uncle, aunt, cousins

The last but not least, my prudential man hehe

I am excited about lies ahead. Whatever I do in my next journey, I hope it is the best for me, I hope I can do with my whole heart. :)

Assalamualaikum readers :)

Sebagai mahasiswa semester akhir, gue - mungkin kalian juga, memang udah harus ngerancang abis lulus itu gue mau ngapain. Dulu gue sempet kepikiran pengen S2 dulu aja, soalnya kita juga tau Kemenkeu lagi gencar-gencarnya nyediain kuota LPDP yang banyak, tapi makin kesini gue ngerasa kalo otak gue butuh istirahat dari pembelajaran formal, jadi gue pengen nyari kerja dulu. Kebetulan jurusan gue ada di ranah industri, otomatis orientasi gue buat nyari kerja itu lebih ke arah industri, walaupun gue juga gak menutup kemungkinan buat kerja di pemerintahan. 


Assalamualaikuuum :D

Ngelanjutin postingan sebelumnya, kali ini saya bakal ngajak kalian main aiiiiir yeeaaay :D
Yap, hari ketiga di Malang, saya memutuskan buat nyari wisata alam yang gak terlalu jauh dari kota Malangnya. Setelah minta rekomendasi temen dan liat-liat reviewer di internet, dapetlah tuh satu wisata air terjun yang namanya Sumber Maron. Lokasinya ada di desa Karangsuka, Pagelaran, Malang. Kalo naik motor dari kota Malang butuh waktu sekitar satu jam perjalanan. Terus akses buat kesana juga cukup mudah, soalnya jalannya juga udah beraspal. Tapi kalo bawa mobil, mungkin jalannya agak sempit begitu masuk ke desanya. Petunjuk jalannya menurut saya pribadi memang masih kurang, jadi masih harus mengandalkan maps atau GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) wkwkwk

Saya sampe di tempat wisatanya sekitar jam 11 siang. Pertama kali sampe kita bakal ketemu tempat parkir yang dikelola sama warga sekitar. Biaya parkirnya buat motor itu Rp 3000/motor. Abis gitu kita jalan ke loket wisatanya dan bayar Rp 3000/orang buat masuk plus biaya kebersihan. Gak jauh dari loket kita bakal ketemu sama banner selamat datang yang kaya gini


Dari banner itu kita tinggal nurunin anak tangga buat ke tempat wisatanya. Nah yang pertama kali bakal kita liat adalah kolam pemandian yang jernih banget. Saking jernihnya batuan di dasar kolam sama ikan-ikan yang lagi berenang tuh keliatan. Terus karena bentuknya kolam jadi airnya tenang banget dan gak terlalu dalem, pokoknya enak deh kalo dipake buat bersantai atau main air sama anak kecil. 


Dari kolam pertama, airnya ngalir ke kolam pemandian yang kedua yang lebih dalem. Di kolam yang kedua ini kalian kaya berenang bareng ikan koi yang ada di sekitar kolam. Tapi aliran airnya tetep tenang sama kaya di kolam pertama. Di pinggiran kolam berjejer warung-warung yang jual makanan dan minuman kecil, penyewaan ban, perlengkapan selfie (tongsis, pocket hp anti air, dll) perlengkapan mandi (sabun,shampo, dll), bahkan kalo kalian lupa bawa baju ganti, ada juga lho warung yang jual kaos-kaos sama celana pendek gitu. Jadi gak perlu takut gabisa berenang cuma karna gabawa baju ganti.


Setelah dari kolam kedua inilah kita bakal ngelewatin dua tiga petak sawah sama nyebrangin jembatan kecil dan ketemulah sama wisata utamanya, yaitu air terjunnya :D 
Daaan walaupun air terjunnya gak terlalu tinggi tapi ternyata aliran airnya deres banget, apalagi karna masih di daerah yang polusinya rendah, airnya juga sejuk. Penampakan air terjunnya kaya gini nih


Nah kalo udah ketemu air terjun, gak afdhol rasanya kalo gak main air. Akhirnya saya sama temen saya nyewa loker di salah satu warung yang ada di sekitar air terjun. Nyewa lokernya pun gak mahal, cuma Rp 5000/loker dan satu loker bisa muat banyak tas, jadi waktu itu saya cuma nyewa satu loker. Terus buat kamar mandinya itu sewa Rp 2000/orang. 

Bagian air di bawah air terjunnya gak terlalu dalem, buat saya aja cuma sepinggang. Tapi di bagian tengah air terjun (kalo di foto warna airnya agak lebih hijau) itu emang alirannya paling kenceng dan dalem juga. Pokoknya ngeri aja kalo liat ke arah situ, berasa di dalemnya ada monster bawah laut, gak deng bercanda, sayanya aja yang penakut wkwk

Setelah puas main air sama foto-foto, terus kita main satu wahana, yang emang cuma ada satu-satunya disini, yaitu River Tubing. Nah River Tubing itu kaya mini arung jeram, jadi kita ngelewatin aliran air yang cukup deres pake ban, satu orang satu ban, kecuali buat anak kecil biasanya dipangku sama orang tuanya. Nah buat River Tubing disini, gak perlu bayar lagi, cukup nyewa ban Rp 5000/ban dan bisa dipake sepuasnya. Tempat penyewaan bannya pun tersedia hampir di semua warung yang ada di sekitar air terjun. River tubingnya dimulai dari garis start yang jaraknya sekitar 50 meter dari air terjun, jadi kalo kita nyewa ban di deket air terjun, kita harus bawa-bawa bannya tuh sampe ke garis start jalan kaki.

Kalo dari atas jembatan, pemandangan River Tubingnya kaya gini


Di tempat garis start ada penjaga yang bakal ngarahin kita buat naik ke ban, jadi pertama penjaganya  megangin bannya dulu, abis itu kita naik sambil pegangan ke tali yang dipasang dipinggir sungai. Setelah kita bener-bener siap, baru deh kita lepas talinya dan biarin ban kita kebawa sama arus sungai. Awal-awal emang arusnya cukup kenceng, apalagi buat River Tubing ini kita sama sekali gak pake pengaman kaya pelampung atau sebagainya. Tapi tenang, walaupun alirannya kenceng, ternyata kedalaman air di sini cuma sebatas paha orang dewasa, jadi gak terlalu berbahaya. Buat ngendaliin ban river tubing ini awal-awalnya cukup susah, tapi lama-lama pas udah terbiasa jadi gampang deh. Terus bagian terserunya adalah waktu bannya mau nabrak pohon, jadi emang ada dua aliran yang ngebawa ban kita kaya mau nabrak pohon, dan saat itulah adrenalin terpacu, padahal pas nabrak juga bannya mantul lagi hehe

Mendekati air terjun, aliran airnya makin pelan dan makin bisa dipake bersantai di atas ban smabil memandang langit *ea. Kaya gini aliran air di depan air terjunnya


Setelah ngelewatin aliran air yang cukup tenang di depan air terjun, kita bakal ketemu lagi sama aliran air yang cukup deres deket garis finishnya. Jarak dari garis start ke garis finish sendiri sekitar 100 m, jadi cukup sebentar sih emang. Makanya waktu itu, saya sampe tiga kali bolak-balik nyobain River Tubing ini wkwk. Kalo main River Tubing lebih asik banyakan gitu, soalnya banyak pengunjung disini yang rame-rame mainan River Tubingnya terus mereka pegangan tangan sambil river tubing dan kaya bikin challenge gitu biar pegangannya gak putus, dan itu SERU liatnya!

Sebenernya mainan air buat saya tuh gak ada bosennya, tapi waktu itu kita mau ngejar kereta pulang, akhirnya jam 13.30 kita berenti main airnya. Oiya disini juga ada mushollanya, walaupun emang cukup kecil dan tempat wudhunya cuma satu keran. Jadi saran saya kalo kalian mau wisata kesini, mending dari pagi atau siang menjelang sore juga bisa. Supaya gak terlalu terik mataharinya dan kekejar waktu sholatnya. Oiya kalo mau hemat, bisa juga bawa bekel sendiri, jadi abis main air, pasti laper kan tuh, nah gak perlu jajan banyak-banyak di sekitar tempat wisata lagi deh. 

Menurut saya pribadi, dari beberapa tempat wisata di Malang yang saya kunjungin, wisata Sumber Maron inilah yang paling berkesan dan bikin bahagia. Jadi kalo kalian main ke Malang, jangan lupa cantumin wisata Sumber Maron ini ke list bucket wisata kalian yaa ;)

Sekiaan. Kalo kalian punya cerita seru tentang Sumber Maron ini, kritik ataupun saran tentang tulisan ini, sok atuh komen di kolom komentar yaa :D

Wassalamualaikum.


Assalamualaikum :)

Yeaay, akhirnya punya cerita juga buat disharing lewat blog hehe
Setelah sekian lama berkutat di laboratorium buat ngerjain penelitian, akhirnya saya dikasih kesempatan buat traveling lagi dan yang lebih nyenengin karena traveling kali ini keluar kota dan dibayarin kampus ehehe. Jadi awal April lalu saya lolos suatu kompetisi yang diadain sama FTP Univ.Brawijaya, nah sekalian lomba saya dan temen saya nyari-nyari deh tuh tempat wisata yang sekiranya terjangkau dan gak jauh dari Malang. Setelah semua rangkaian lomba selesai baru deh tuh kita mulai acara ngebolangnya.

Selama di Malang kita milih nyewa motor buat akomodasi sehari-hari. Sebenernya di Malang sendiri udah banyak transportasi online yang bisa kalian pake. Tapi karna mempertimbangkan biaya, akhirnya kita milih nyewa motor aja. Ada banyak tempat penyewaan motor/mobil di Malang, fasilitas sama harganya juga bervariasi, bisa menyesuaikan budget kalian. Kalo kita waktu itu dapet yang harganya Rp 65.000/hari dan udah dapet 2 helm + 2 jas hujan. Untuk penginapannya kita nginep di salah satu kos-kosan yang bisa disewa per hari di deket kampus Brawijaya. Nama stay house nya itu STT 24, harga yang ditawarin sekitar Rp 135.000-180.000/ malem. Kalian bisa searching di traveloka buat stay housenya ini. 

Nah acara ngebolang kita dimulai  setelah semua rangkaian lomba selesai. Kebetulan kegiatannya selesai di daerah Batu, jadi setelah kegiatan itu kita langsung pergi ke destinasi tujuan kita. Sebenernya banyak banget lho objek wisata yang ada di Batu, mulai dari wisata alam kaya air terjun, wisata rekreasi kaya Jatim Park 1-3, Batu Night Spektakuler, dsb, ada juga wisata museum kaya museum angkut, dan masih banyak lagi pokoknya. Tapi kita lebih milih ke wisata alamnya. Jadi deh kepilih Coban Rondo sebagai destinasi pertama kita.

Coban Rondo atau kalo di Bahasa Indonesia jadinya air terjun Janda ada di Kecamatan Pujon, sebelah Barat kalo dari alun-alun Batu. Kalo dari Malang butuh sekitar 1.5-2 jam perjalanan. Coban itu Bahasa Jawa Timurnya air terjun, kaya curug kalo di Jawa Barat. Kalo kata Rondonya itu dari cerita masyarakat setempat bahkan ada mitos kalo pasangan kekasih yang pergi kesini berdua itu nanti bakal putus. Untung kan ya saya perginya gak sama pacar, jadi gak bakalan kena mitosnya wkwkwk

Terlepas dari mitos masyarakat setempat, Coban Rondo sebenernya sebuah kompleks wisata. Harga tiket masuknya itu Rp 35.000 per orang. Sekitar 1 km dari gerbang masuk, ada taman labirin dan wahana-wahana lain (Mobil ATV, rumah kelinci, panahan, dll) yang sepertinya diperuntukkan untuk anak-anak. Kalo mau coba wahana ini bayar lagi sekitar Rp 8.000-10.000/orang per wahana. Karena kita berdua kurang berminat akhirnya ke area wahana cuma buat liat-liat. Air terjun di kompleks wisata ini ada dua, ada Coban Tengah dan Coban Rondonya. Tapi air terjun yang bisa diakses pake kendaraan biasa itu cuma Coban Rondonya. Kalo buat ke Coban Tengah butuh kendaraan khusus kaya motor trail soalnya akses jalan ke sana masih belom di aspal. Coban Rondo sendiri jaraknya sekitar 2 km dari gerbang masuk tadi. Sebelum masuk ke area air terjun, ada parkiran buat kendaraan dan kios-kios yang jual makanan maupun cenderamata khas sana. Biaya parkir motornya Rp 2000/motor. Dari tempat parkiran terus kita jalan sekitar 100 m ke gapura air terjun. 

Akses jalan dari gapura ke air terjunnya itu conblock jadi gak bikin capek. Di sepanjang jalan mau ke air terjun,ada monyet-monyet liar yang suka ngedeketin pengunjung yang bawa tentengan makanan. Saran saya kalo kalian gak mau diganggu mereka, makanannya ditaro aja di tas, gak usah diumbar-umbar wkwk Walaupun monyet-monyet disini agak agresif tapi mereka baik kok sama pengunjung setempat. Maksdunya kalo diusir, ya mereka pergi, gak bakal gangguin terus-terusan. 

Sekitar 100 m dari gapura, sampe deh kita di air terjun Coban Rondonya. Air terjun Coban Rondo cukup tinggi. Tapi sayangnya emang ada larangan buat berenang di deket air terjun. Apalagi waktu kita ke sana cuacanya lagi musim hujan, jadi 20 m sebelum air terjun itu dipasang rantai pembatas supaya pengunjung gak terlalu deket ke air terjunnya.

Walaupun kurang asik karna gak bisa nyebur langsung deket air terjunnya, tapi kalian tetep bisa berenang di aliran air sekitarnya kok. Cuma waktu itu karna hari minggu dan rame banget pengunjungnya, jadi kita lebih milih buat foto-foto aja. Ada beberapa spot foto di sini yang bagus,  salah satunya rumah pohon yang bentuknya kaya kapal ini. 

Untuk fasilitas umum kaya toiletnya juga bagus. Airnya bersih dan dingin banget, terus toiletnya juga keurus. Selain itu disini ada mushola yang cukup nyaman juga. Jadi untuk kalian yang muslim gak perlu takut ketinggalan waktu sholat. Kalo kalian mau dapet foto yang bagus emang sebaiknya ke sini di hari-hari biasa biar gak perlu ngantri sama pengunjung yang lain hehe

Setelah kurang lebih 3 jam muter-muter di kompleks wisata ini, terus kita ngelanjutin ke destinasi selanjutnya, yaitu wisata Paralayang. Wisata Paralayang ini emang lokasi buat penerjunan paralayang. Bedanya sama yang di Puncak Bogor, pemandangan di tempat Paralayang ini jauh lebih bagus. Bahkan kata orang, "Belom ke Batu kalo belom ke Paralayang". Dari Coban Rondo ke paralayang butuh waktu sekitar 15 menitan ke arah timur. Harga tiket masuk ke sini Rp 10.000/orang sama parkir motor Rp 5.000. Waktu itu saya sampe di sana jam setengah 5 sore, jadi mataharinya udah gak terlalu terik. Pemandangan sore hari di paralayang bagus banget terus udaranya juga sejuk, pokoknya enak deh. Foto di bawah ini diambil dari arah belakang.


Di deket paralayang ada lokasi foto yang namanya "Taman Langit" . Jadi di lokasi ini disediain objek-objek foto yang kekinian banget dan bisa jadi destinasi wisata yang kudu dicobain kalo lagi di Batu. Harga tiket masuk ke taman ini Rp 10.000/orang, jadi sekalian nunggu sunset juga kalian bisa jalan-jalan di taman ini.
Pardon my tired face :')
Menurut saya ada beberapa spot foto bagus di taman ini, tapi untuk dapetin spot yang bagus tentunya kita juga harus mau antre sama pengunjung lain. Beberapa spot foto di taman ini bisa diliat di bawah

Setelah magriban di suatu musholla yang ada di sana, baru deh kita balik ke tempat paralayangnya lagi. Daaan Subhanallah pemandangannya baguuuuss banget, dijamin gak nyesel deh kalo kesini. Kalian tuh kaya bisa liat bintang-bintang di langit dan bumi *eaa wkwk. Tapi ada sih pemandangan gak enaknya, yaitu ngeliatin orang racapan dalam posisi jomblo wkwkwk. Dari tempat ini kalian bisa liat gemerlap lampu-lampu Kota Malang yang dikelilingin banyak gunung. Kaya gini nih pemandangannya.

Cantik banget kan ya? 
Setelah setengah jam ngeliatin pemandangan kaya gitu dan tubuh juga udah gak kuat nahan dingin, akhirnya kita turun deh. Terus kita lanjutin ngebolang ke alun-alun Batu sekalian mau nyari makan. Dari Paralayang ke alun-alun Batu gak terlalu jauh, sekitar 15 menitan. Sama kaya alun-alun kebanyakan, di alun-alun Batu banyak pedangan makanan dan orang-orang jualannya. Karna tujuan utama kita ke alun-alun itu adalah hunting makanan, jadi yang kita cari ya makanan.

Makanan pertama yang kita cobain itu Ketan di Pos Ketan Legenda. Beneran deh kalo kalian ke Batu kalian WAJIB banget nyobain ketan yang satu ini. Posisi warungnya ada di seberang Toko Susu Ganesha deket Komidi Putar. Ketan di sini udah melegenda banget. Harga yang ditawarin berkisar antara Rp 7.000 sampe Rp 16.000 tergantung toping yang kita pilih. Menu yang ditawarin juga unik, pake singkatan-singkatan gitu. Waktu itu saya pesen yang KSDK (Ketan Susu Durian Keju) terus temen saya pesen yang KSDM (Ketan Susu Durian Meisis) yang harganya masing-masing Rp 16.000. Jadi ketan ini dikasih vla kaya vla pudding terus dikasih taburan meisis/keju sama dikasih satu-dua potong buah durian asli. Rasanya tuh manis legit, tapi manisnya gak terlalu nusuk, pokoknya enak deh. Penampakannya kaya gini nih

Setelah puas makan ketan terenak di Malang, terus kita jalan ke alun-alunnya dan nemuin satu jajanan khas, yaitu Sempol Malang. Sempol itu makanan yang bahannya dari daging ayam sama tepung, terus ditusuk dan digoreng pake telor. Harga sempolnya Rp 500/tusuk. Jadi kalian bisa dapet banyak deh hehe

Di alun-alun ini juga ada wahana permainannya. Ada dua wahana, yaitu komidi putar sama bianglala. Harga per wahananya itu Rp 5000 sekali naik. Waktu itu saya naik yang bianglala, walaupun gak terlalu tinggi tapi tetep aja kerasa seremnya wkwk. Buat naik bianglala ini harus antre juga, tapi kalian gak akan nyesel karna pemandangan dari atas bianglala juga gak ngecewain mata. Nah sambil naik bianglala kalian bisa deh ngemilin sempol yang banyak dijual di alun-alun hehe
Setelah naik bianglala perburuan dilanjutkan dengan mencari sate kelinci. Saya sendiri baru pertama kali nyobain sate kelinci dan kesan pertama: gak suka, after taste nya amis gitu, terus karna kebayang kelincinya jadi kasian :( Banyak yang jual sate kelinci di alun-alun, harganya sekitar Rp 2000/tusuk lebih mahal dibanding sate ayam. Setelah makan sate kelinci dan merasa kenyang, akhirnya kita pulang deh ke stay house dan berakhir pulalah trip kita ke Batu hari itu hehe

Destinasi wisata di Batu menarik-menarik deh, gak salah kalo Batu dikasih julukan Kota Wisata. Adanya destinasi wisata ini juga jadi daya tarik Batu dan sumber perekonomian kota ini sendiri. Sekian semoga bisa jadi referensi kalian yang mau jalan-jalan di Batu dengan budget minim ya hehe

Wassalamualaikum :)


Assalamualaikum readers :)

Bogor terkenal karena frekuensi hujannya yang tinggi. Tapi ternyata Bogor juga punya banyak banget destinasi wisata alam tersembunyi yang bisa jadi tempat wisata kalian. Selain itu lokasi Bogor yang deket sama Jakarta bikin Bogor lebih mudah dijangkau. Nah salah satu wisata alam yang cukup mudah dijangkau di Kabupaten Bogor itu ada curug Lembah Pelangi. Curug ini ada di Kecamatan Jatake Desa Cimanggu. Awal cerita saya ketemu sama curug ini juga gak disengaja. Awalnya saya pergi ke daerah Galuga buat ngambil sampel penelitian. Karena "katanya' di daerah Leuwiliang banyak curug yang bisa dikunjungin saya jadi kepo buat searching di Google Maps. Alhasil munculah curug ini. Kalo dari IPB Dramaga, lokasi ke curug ini relatif deket, cuma butuh waktu lima belas sampe setengah jam. Jalan yang dilewatin juga udah bagus karna lewat jalan raya Leuwiliang terus masuk ke daerah perkampungan penduduk.
Gak ada plang atau tanda khusus di sepanjang jalan yang nandain curug ini. Tapi sekitar 100 m sebelum curug bakal ada turunan yang cukup curam terus ada papan petunjuknya. Setelah itu ada tempat parkir yang lumayan rindang. Biaya masuk ke curug ini cuma Rp 5000, terus biaya parkirnya Rp 3000 sampai puas hehe. Hal yang unik dari curug ini, kalo biasanya buat ke curug itu kita jalannya mendaki, kalo ke curug ini kita malah turun bukit. Jadi setelah dari tempat parkir, kita harus nurunin sekitar 50 anak tangga warna merah buat ke lokasi curugnya. Kaya gini tangganya
Dari atas anak tangga ini ada beberapa tempat yang bisa dijadiin spot foto bagus. Tapi hati-hati juga karena tangganya banyak tanahnya jadi kalo musim hujan suka licin. Di  lokasi ini ada tiga curug, curug utama yang paling besar, curug kedua yang sedeng, sama satu lagi yang kecil. Kenapa namanya curug lembah pelangi? Soalnya kalo cuacanya lagi cerah air dari curug yang paling besar suka mantulin cahaya yang efeknya kaya pelangi. Tapi karna waktu saya ke sana langitnya lagi gak cerah, jadi pelanginya cuma ada di bola mataku wkwkwk
Nah foto di atas itu foto curug yang besar atau utamanya. Keliatan kan kalo semburan airnya itu sampe bikin kabut dan emang arusnya juga deres banget. Tapi sayangnya karna curug ini lokasinya ada di bawah pemukiman warga, jadi kalo musim hujan airnya tuh warna coklat dan gak bisa dipake berenang. Padahal waktu itu saya udah siap bawa baju ganti wkwk. Di bawah curug utama ini ada sungai yang lumayan lebar. Waktu saya ke sana juga ada warga yang turun ke sungai ini buat mancing. Kalo buat pengunjung sendiri gak ada akses khusus kaya tangga gitu buat ke sungainya, jadi kalopun mau turun, turunnya harus lewat batu-batu yang kecil dan licin. Mungkin kalo waktu itu arus sungainya lagi gak deres, saya juga turun hehehe. Tapi tenang, masih ada dua curug lagi yang lebih gampang diakses kok, iya curug yang sedeng sama curug yang kecil.
Setelah anak tangga terakhir, kita bakal ketemu sama curug yang sedeng yang di bawahnya ada kolam renangnya. Curug yang sedeng ini ternyata biasa dipake buat rappelling, itu lho panjat tebing pake tali. Seru kali ya sambil manjat sambil main air wkwkwk. Kolam renang yang ada di bawah curugnya gak dalem dan dipake emang buat anak-anak. Kalo di foto itu airnya kaya kotor banget sebenernya gak terlalu kok. Airnya kotor emang karna waktu itu musim hujan, jadi ada tanah yang ikut kebawa air hujan yang akhirnya turun juga lewat curug ini. Tapi pas curugnya dideketin airnya lumayan jernih kok. 

Di depan kolam renang tadi ada saung-saung dan tempat duduk yang bisa dipake buat bersantai. Kalo curug yang paling kecil lokasinya 30 meter di sebelah kanan curug yang sedeng ini. Jalan buat ke curug yang kecil ini lumayan ekstrim, soalnya lewatin batu-batu yang di sebelah kanannya itu tebing yang bawahnya sungai tadi. Walaupun ada pagar pembatasnya tapi menurut saya tetep ada potensi bahaya sendiri kalo kita gak hati-hati. Curug yang ini gak ke foto jadi gak bisa ditampilin deh hehe. Di curug lembah pelangi juga udah disediain kamar mandi sama kamar ganti walaupunn waktu saya kesana kondisinya masih direnovasi. Juga ada mushollanya, jadi buat yang muslim jangan khawatir.

Menurut saya kalo mau ke curug ini emang jangan pas lagi musim hujan soalnya percuma gak dapet view yang bagus ._. Terus curug ini juga cocok buat dijadiin tempat piknik, karna kalian bisa makan di saung sambil ditemenin suara gemericik air yang adem banget didenger. Udaranya juga masih asri, pokoknya mah buat healing sementara bisalah wkwkwk.

Sekian. Masih banyak destinasi alam di Bogor yang belum tereksplor. Jadi keep reading ya hehe

"Pesanku untuk penikmat alam hanya satu, jagalah ia dan isinya untuk anak cucumu" -ALF




Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, tepat hari ini gue menginjak umur 22 tahun. Yang artinya gue makin tua dan umur gue di dunia ini makin berkurang. Gue juga bersyukur karena Allah ngasih kesempatan gue hidup sampe sekarang, tanpa sedikit pun kekurangan. 

Sedikit cerita semenjak gue berumur 20 tahun, gue ngerasa deg-degkan banget buat menghadapi hidup. Banyak pikiran kaya: abis lulus kuliah mau ngapain, mau kerja dimana, mau ngelanjutin S2 apa engga, mau nikah sama siapa, gimana nanti dunia kerja, gimana caranya hidup mandiri tanpa sepeser pun uang orang tua, apa gue lulus langsung dapet kerja nanti, apa kerjaan gue bakal layak, will I survive??? And honestly at that moment I wasn't ready to become an adult people. 
Gue anak sulung dari 3 bersaudara, artinya mau gak mau, siap gak siap sebentar lagi gue bakal jadi tulang punggung keluarga ketika orang tua gue pensiun, dan ini sekiar 4 tahunan lagi. Terus saat itu gue mikir, gue belom bisa apa-apa, hidup gue masih tergantung sama orang tua, gue masih manja, pokoknya masih kekanak-kanakan. Dulu waktu kecil gue pengen cepet-cepet jadi orang dewasa, biar gak capek belajar. Tapi setelah gue masuk ke dunia dewasa, ternyata gue pun mengalami state "gak siap" itu.

Ada banyak perubahan yang didapet ketika kita jadi dewasa. Ada yang menurut gue positif tapi cukup banyak yang negatifnya. Negatif yang gue alamin sendiri itu, semakin susah nyari temen yang bener-bener bisa ngertiin kita, semakin banyak pertimbangan walaupun sekedar hal sepele, semakin jadi orang yang tertutup karena nyari orang yang bisa dipercaya itu cukup sulit terutama untuk hal-hal pribadi, semakin banyak pikiran entah mikirin apa, dan lain-lain. Sementara yang positifnya itu gue ngerasa semakin kenal diri gue sendiri gue tau maunya gue gimana gue gak sukanya apa, tertantang mencoba hal-hal baru yang positif yang gak bisa dilakuin anak kecil, semakin bertanggung jawab setelah pertimbangan tadi, semakin care sama sekitar, semakin ingin hidup sehat, semakin ingin memperbaiki diri, dan semakin bisa membuat life plan sesuai kapasitas diri (soalnya kalo dulu bikin life plannya idealis banget, kalo mau sesuatu ya ditulis aja, padahal kemampuannya jauh).

Pun bertambahnya umur gue sekarang juga bikin gue makin sadar, kalau udah waktunya jadi perempuan dewasa. Sudah saatnya berpikir "nanti gimana" bukan lagi "gimana nanti". Sebisa mungkin gue susun rencana hidup, walaupun pada akhirnya mungkin manusia cuma bisa berencana. Evaluasi diri pun harus lebih sering dilakukan, terutama rohani, lebih harus mikirin tabungan akhirat. Rencana studi dan karier pun sudah harus dipersiapkan matang-matang. Setelah lulus sebetulnya gue lebih pengen kerja dulu, pokoknya gue pengen vakum dulu dari dunia pendidikan formal, abis gitu baru deh S2. Dan satu hal yang sebenernya gue juga ragu ini harus gue pikirin apa engga itu: Jodoh. Hehe. Gak tau kenapa gue sekarang lebih gemes kalo liat anak kecil, mulai suka masak, mulai memperhatikan penampilan, dan mulai berangan-angan kaya gue nanti pengen punya rumah kaya gini, kalo punya anak mau kaya gini, nanti rumah tangganya mau kaya gini dll deh. Gue sendiri memang belum menemukan si calon imam itu. Tapi gue sadar, gue harus lebih memperbaiki diri, karena yang gue tau jodoh kita itu cerminan diri kita, perempuan yang baik pasti dapet laki-laki yang baik juga (kecuali di sinetron). Terakhir harus lebih mikirin keluarga, banyakin quality time bareng keluarga, karena gue sadar cepat atau lambat gua bakal hidup di luar rumah orang tua gue, entah itu untuk kerja, ngelanjutin studi, atau pindah ke rumah suami :))

And now, I am ready to be a woman. Happy birthday to me! :D

Growing old is mandatory, but growing up is optional -Walt Disney

Turning 22!

by on Februari 10, 2018
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, tepat hari ini gue menginjak umur 22 tahun. Yang artinya gue makin tua dan umur gue di dun...

Assalamualaikum :)

Awal Januari lalu saya dapet pengalaman baru, yaitu pertama kali saya naik gunung, tepatnya Gunung Batu yang ada di daerah Jonggol, Kab.Bogor. Sebenernya secara kontur dengan tinggi 875 mdpl, Gunung Batu itu termasuk bukit bukan gunung, cuma menurut saya sendiri butuh adrenalin khusus buat sampe ke puncak bukit ini. Foto di atas itu adalah foto Gunung Batu yang diambil dari kaki bukitnya. Sesuai namanya, bukit ini dipenuhin sama batu-batuan, termasuk di puncaknya. Nah kalo dilihat dari foto, memang puncak bukit ini cukup terjal, kalo dari kejauhan itu kaya hidung yang mancung wkwk

Kalo dari Dramaga buat ke lokasi ini butuh waktu kurang lebih 2 jam perjalanan naik motor. Rutenya juga gak terlalu rumit kok, pokoknya ambil arah ke Sentul terus cari jalan ke arah Jonggol via Google Maps. Oke ini gak membantu ya wkwk abis aku tak tau jalan :" View di perjalanan juga gak akan bikin bosen dan capek kok, kita bisa liat bukit-bukit lain yang dikelilingin sama sawah di sepanjang jalan, jadi menurut saya sendiri hal ini termasuk "cuci mata" dari lalu lintas Dramaga yang gak pernah berenti macetnya. Bukit ini itu paling keliatan dari bukit-bukit yang lainnya, ya karena dia punya puncak yang cukup terjal itu. Bahkan awalnya saya dan temen saya gak ngira kalo bukitnya itu yang ini. Tapi ternyata titik Google Maps nya berenti pas di bukit ini.

Oiya untuk yang bawa kendaraan ada tempat parkirnya kok, bayar parkirnya itu Rp 15.000. Dari tempat parkir itu kita harus jalan kurang lebih 300 m buat ke gerbang pendakiannya. Kondisi jalannya belom terjal, cuma becek karna waktu itu lagi musim hujan. Keadaan jaannya bisa diliat di bawah ini

Begitu sampe di gerbang pendakian ada penjaga yang bakal narik uang kebersihan sebesar Rp 15.000/orang. Kalo kalian mau kemping disini bayarnya Rp 20.000/orang. Foto gerbangnya kaya gini nih. Foto ini diambil pas turun sebenernya, jadi mukanya udah lelah letih lunglai deh wkwk

Dari gerbang kita mulai masuk ke jalur pendakian. Nah di awal ini kita bakal lewatin tanjakan, namanya tanjakan Kebo. Sebenernya gak terjal sih, masih datar malah, cuma karena jalannya licin jadi sebaiknya udah hati-hati disini kalo gak mau bajunya udah kotor di awal.
Foto tanjakan Kebo dari arah atas
Setelah tanjakan Kebo inilah pendakian mulai terasa nyata wkwk Jalanannya mulai terjal dan menyempit, dan pohonnya makin berkurang, tinggal ilalang yang kalo dipake buat pegangan ya bakal kecabut ilalangnya dan kita malah jatoh deh. Tapi di beberapa tempat ada tali tambang yang bisa ngebantu buat naik. Sekitar 200 m dari gerbang pendakian kita bakal sampe di checkpoint yang pertama dan satu-satunya ini. Jadi tuh kaya lahan cukup luas dan di tempat ini biasanya dipake buat kemping. Walaupun belom tinggi, tapi view dari tempat ini udah bagus banget, bisa diliat dari foto di bawah

Di tempat ini nih waktunya istirahat sebentar sama minum yang banyak, soalnya jalan selanjutnya itu lebih menguras keringat. Kalo mau naik bukit ini bawa air sih sebaiknya, minimal yang 600ml lah, karena kerasa sih keringetnya tuh kekuras. Soalnya pas nyampe titik ini aja tuh punggung rasanya udah basah. Setelah dari titik ini, kita bakal ngelewatin jalan yang lebih curam terus lebih sempit, lebar jalannya itu 1-2 m dan di kanan kirinya itu langsung jurang, jadi kalo salah langkah sedikit dan lagi gak beruntung ya udah deh. Dan emang udah ada korbannya juga kok, kalian bisa googling kalo di tahun 2015 bukit ini pernah makan korban, jadi walaupun keliatannya pendek harus tetep hati-hati ya. 
Jalannya mulai menyempit dan lebih licin, itu yang keliatan bukan puncak ya

Daaann semakin tinggi jalannya makin sempit, tapi untungnya makin ke atas juga makin banyak batu yang bisa dipake buat pijakan terus ada tali tambang yang bisa kalian pake buat pegangan, jadi ga perlu pegangan doi wkwkwkwk
Jalan yang makin ke atas
Walapun cukup menguras tenaga, tapi selama mendaki bukit ini, mata kalian bakal disuguhin sama pemandangan alam yang cantik banget dan ngurangin rasa capek. Kaya gini contohnya
Itu tanda panah putih checkpoint tadi


Hampir sampe puncak, tapi masih jauh juga sih
Nah dari foto yang terakhir itu, itu jadi tempat buat minum terakhir sebelum ke puncak. Abis dari situ jalanannya ke puncak lebih parah lagi terjalnya, bahkan ada satu titik yang hampir 90 derajat kemiringannya jadi buat naik batu itu harus scrambling sambil megang tali. Sampe sekarang saya juga gak nyangka bisa lewatin batu itu. Bayangin naiknya aja susah, gimana turunnya. Bahkan saya sempet nyerah di titik ini, tapi karna penasaran akhirnya lanjut juga. Daan begitu sampe puncak, perjuangan tadi tuh kaya kebayar sama pemandangan yang MasyaAllah indah. Dari puncak bukit ini kita bisa liat rumah-rumah warga yang kecil kaya monopoli, bahkan menurut salah satu blogger dari puncak ini kita bisa ngeliat sedikit Gunung Pangrango. View dari puncaknya itu kaya gini

Di puncak ini ada tiang bendera sama tulisan ala-ala gitu, sama ada kaya benda in memoriam buat korban yang jatuh dulu. Jujur waktu liat itu saya jadi takut turunnya gimana nanti wkwk 

Langitnya cerah ya? Iya tapi panas banget. Jadi persiapan bawa payung aja buat di puncak wkwk
Another view
Sebenernya itu masih bisa jalan ke depannya lagi, tapi saya gak berani, jadi cuma sampe situ aja deh. Keliatan kan kanan-kirinya udah jurang kaya gitu hehe. Setelah istirahat dan ngerasa cukup foto-foto, kita turun deh. Buat turun juga butuh perjuangan, cuma lebih kerasa waktu dakinya. Nah buat turun ini sebaiknya kita tetep pegangan tali terus turunnya itu mundur, jadi beban tubuhnya tetep ada di tempat yang lebih tinggi, atau kalo takut juga bisa nyelosor dari satu batu ke batu lainnya (eh apa ya bahasanya? ya pokoknya gitu deh wkwk)

Alhamdulillah bisa turun dengan selamat Yeaay. Awalnya saya seneng karena baju saya gak kotor-kotor banget, cuma bagian belakangnya doang akibat nyelosor-nyelosor batu tadi. Eh pas  turun di tanjakan Kebo, padahal pegangan tas temen, malah kepleset :" jadi deh foto di gerbang tadi lututnya ada bekas tanah-tanahnya.

Oiya kalo naik bukit ini sebaiknya emang gak lagi musim hujan, soalnya kalo lagi hujan itu bahaya banget karna batu-batuannya jadi lebih licin. Buat timing dakinya sendiri banyak blogger yang nyaranin naik pas pagi atau sore hari biar waktu nyampe puncak gak terlalu panas. Tapi waktu itu saya naik pas siang, jam 11-an karena biar gak kena hujan juga. Waktu pendakiannya sekitar 1-1,5 jam. Saya kemaren itu sekitar 1,5 jam karna banyak berenti wkwk maklum ya pertama :v Ada baiknya juga sebelum kesini liat prakiraan cuaca di hp dulu biar timing dakinya pas. Satu lagi, jangan ninggalin sampah selama mendaki, walaupun kita udah bayar uang kebersihan tapi kan kita juga punya tanggung jawab buat ngejaga bumi ini. Saya sedih karena banyak sampah-sampah makanan nyelip di ilalang-ilalang sepanjang jalan. Bumi dan isinya ini emang buat kita, kalo bukan kita yang ngejaga, siapa lagi?

Mendaki gunung ternyata gak seserem yang saya pikir di awal. Malah menurut saya ketika mendaki ini kita bisa tau sebenernya diri kita itu kaya gimana. Dan alam emang gak pernah salah. Sekian pengalaman saya, kalo kalian punya cerita seru atau tips buat mendaki bukit ini, bisa share di komen ya. 

Terimakasih :)
For me, I like this place, because it makes me realize how tiny I am and my problems are 
Assalamualaikum. Akhirnya gue punya niat buat nulis lagi hehe

Tau kan kalo mahasiswa itu masuk awal semester bulan Agustus atau September? Nah IPB tuh salah satu kampus yang liburnya sedikit bangeeet. Kadang kampus lain udah pada libur, kita belom, eh giliran masuk IPB duluan. Apalagi setiap libur itu pasti ada aja kegiatan, yang akhirnya bikin liburan gue kepotong. Kaya semester ini nih contohnya, karna gue ada PKL, gue cuma dapet jatah libur 2 minggu, itu pun di rumah doang, karna temen-temen gue udah pada PKL duluan. Tapi Alhamdulillah gue dapet satu pengalaman berharga dan kesempatan ekstra liburan di awal-awal masuk kuliah :)

Cerita bermula waktu gue sama keempat temen gue, geng Gatotkaca, ikut kompetisi bisnis plan yang diadain sama BEM FT Undip. Alhamdulillah gue dan tim lolos jadi 8 besar finalis dan kita dapet kesempatan buat presentasi karya kita di sana. Walaupun waktu itu pengumumannya mendadak banget karna diumumin H-3 presentasi, akhirnya gue dan tim berangkat juga ke Semarang. Waktu itu kita berangkat malem Jumat, pake kereta Menoreh. Awalnya gue kira keretanya tuh yang kaya kereta ekonomi biasa tapi ternyata keretanya ekonomi-AC jadi cukup nyaman kok kalau buat pergi dengan budget yang pas-pasan kaya gue hehe. Tepat di hari Jumat dini hari gue dan tim touch down di Semarang. Tapi karena belum bias cek-in hotel akhirnya kita jalan-jalan dulu.

Tempat pertama yang kita kunjungin adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang letaknya di Jl. Gajah Raya, Sambirejo, jaraknya sekitar  5 kilo dari stasiun. Waktu itu gue sama temen-temen naik angkot pergi ke Masjid Agungnya.

Dari beberapa tulisan yang gue baca, masjid agung ini dibangun tahun 2001 dan baru selesai pembangunannnya di tahun 2006. Kalau gak salah juga, ini masjid didirikan di atas tanah wakaf. Dari segi arsitektur, Subhanallah, bagus banget. Masjdi ini punya tiang yang ada payungnya, mirip kaya payung di Masjid Nabawi Madinah. Kebetulan gue waktu itu ketemu sama dewan masjidnya, terus Bapaknya cerita kalo arsitek masjid ini seorang perempuan, hebat ya. Terus tiang payungnya itu juga diimpor lho dari Madinah. Sayangnya waktu kita kesana kondisi tiang payungnya lagi direnovasi, jadi gak sempet liat waktu payungnya itu dibuka. Di masjid juga ada Al-Qur'an besar yang tempatnya persis di depan pintu masuk masjid. Suasana di dalem masjidnya tuh adem banget, kebanyang gimana nikmatnya solat disana. Nah ini nih foto-foto dari Masjid Agung Jawa Tengah.




Setelah dari sini kita sarapan di angkrikan yang ada di depan masjid dan ke hotel buat persiapan lomba. Di hari kedua gak banyak cerita karena dari pagi sampe sore kita lomba. Tapi malemnya itu kita jalan-jalan ke daerah Lawang Sewu, terus beli oleh-oleh di Bandeng Juwana karena temen gua ada yang mau pulang duluan. Nah di hari ketiga, yaitu Minggu 10 September 2017, kita One Day Trip in Semarang. Jadi di Semarang itu kita nginep di NJ Guest House, sekitar 5 menit dari kampus Undip. 
Destinasi pertama yang kita tuju adalah Brown Canyon. Kalo diliat di google tempat ini punya tebing-tebing ala-ala grand canyon gitu. Kita kesana naik Grab, kalo gak salah waktu itu harga grabnya Rp 40.000. Waktu tempuhnya itu setengah jam kurang lebih. Jalan kesana itu lebih gersang terus lewatin perkampungan gitu dan itu jalannya sempit. Gue sebenernya gak enak sama Bapak Grabnya, jadi saran gue kalo mau kesini mending naik motor aja hehe. Udah gitu tempatnya pelosok jadi untuk pulangnya itu gabisa ngegrab. Waktu itu kita dapet driver baik banget, namanya Pak Helmi, Bapak ini mau nungguin kita. Setelah sampe sana tempatnya diluar ekspektasi. Ternyata tempat itu tuh adalah tambang batu sama pasir yang karena batunya udah ditambang jadi ngebentuk tebing-tebing ala grand canyon. Tapi kalo bisa ambil foto dengan angle yang pas sih masih keliatan bagus kok. Ini nih foto-fotonya
Tuh keliatan kan dari fotonya ada truk yang lalu lalang wkwk. Sedikit nyesel sih sebenernya tapi pengalaman juga. Setelah dari sini kita ke klenteng Sam Po Kong. Dari Brwon Canyon ke klenteng jaraknya lebih jauh, kita masih pake grab yang tadi dan itu bayar sekitar Rp 60.000. Biaya masuk ke Sam Po Kong cukup murah kalo gak pake paket, sekitar Rp 15.000, tapi ini tuh cuma bisa di sekitar halamannya doang, kalo mau masuk ke tempat ibadahnya bayar lagi. Oiya gue gak punya foto yang pas buat di upload jadi bisa googling sendiri ya gimana view Sam Po Kong :)
Setelah dari Klenteng Sam Po Kong, kita ke Kampung Pelangi, jaraknya lumayan deket, kalo pake GrabCar cuma bayar Rp 11.000. Kmapung Pelangi ini pemukiman penduduk yang dinding-dinding rumah mereka dan jalanan kampungnya dihias sedemikian rupa sama gambar-gambar yang bagus buat jadi spot foto. Masuk ke Kampung Pelangi gratis kok asal mau capek jalan aja, soalnya lumayan luas. Ada beberapa spot foto yang bagus di sini, antara lain spot sayap malaikat, spot doodle lucu, ada lukisan presiden RI juga, pokoknya banyak banget, dan penduduk di sana ramah, maksudnya mereka gak terganggu dengan lalu-lalang wisatawan, malahan hal ini jadi sumber pemasukan buat mereka, kaya ada warga yang jualan minum. Nah ini beberapa foto yang diambil dari Kampung Pelangi


 Ini nutup mata karna silau btw bukan gaya :(

Udah cocok? wkwkwkwk

Daannn masih banyak lagi fotonya, tapi takut bosen diliat jadi segitu aja ehehe. Sepulang dari sini itu jam 4. Terus kita pergi ke Toko Oen, toko Es Krim yang legendaris banget di Semarang. Ini gue sih yang request pergi kesini, karena gue emang suka es krim, dan gue penasaran seenak apa es krim di sini. Dari Kampung Pelangi ke Toko Oen sebenernya deket tapi jalannya harus muter, jadi lagi-lagi kita pake GrabCar. Nah di Toko Oen gue mesen es krim namanya OEN's Symphony (Rp 34.500). Es krim ini terdiri dari 5 varian rasa, kalo gak salah rasanya itu coklat, mangga, strawberry, vanilla, sama kopi gitu, yang paling enak itu es krim strawberry nya karena asem buahnya dapet banget, pokoknya pas gitu di mulut. Kalo temen gue pesen Pannekoek Ice Cream (Rp 29.000), jadi pancake yang di atasnya dikasih es krim gitu. Kalo es krim yang ini ngenyangin banget, karna ada pancakenya sih. Penampakan es krimnya kaya gini gais
OEN's Symphony
Pannekoek Ice Cream


Setelah dari Toko Oes kita ke Lawang Sewu, karna rasanya emang gak afdhol ya kalo ke Semarang tapi gak kesini. Ini kali kedua gue kesini, pertama itu waktu SMA dan sempet masuk ke penjara bawah tanahnya. Tapi yang sekarang karena dari Toko Oen ke Lawang Sewu nya itu jalan, jadi nyampe sana magrib, jadi cuma di sekitar halamannya aja.


Di lawang gak banyak foto sih, selain karna gak berani, terus muka kita juga udah pada lelah jadi cuma duduk-duduk dan liatin pengunjung. Setelah dari Lawang Sewu kita nyari makan ke daerah Simpang Lima, dan itu jalan karna budget transportasi kita rasa sudah banyak dikeluarkan di awal hehe. Total kilometer yang di tempuh itu sekitar 2 km. Nah gue juga sempet mampir ke Bandeng Juwana lagi buat beli lumpia basah karena jalannya searah. Gue gak terlalu suka sih sama bau rebung, tapi karena penasaran ya beli deh. Harga lumpianya sendiri sekitarRp 13.000. 


Awalnya gue kira makanan di Simpang Lima itu kaya angkringan model-model Malioboro gitu, ternyata engga, lebih kaya tenda-tenda nasi goreng, seafood, dan makanan malem lainnya, jadi B aja rasanya wkwk. Setelah dari simpang lima kita balik lagi ke derah Undip buat istirahat dan persiapan pulang ke Bogor esok harinya :) 

Dua minggu setelah ini gue balik lagi ke Semarang tapi cuma satu hari, dan kita sempet ke daerah Kota Lamanya. Daerah ini kaya kota tua nya Jakarta, arsitektur Belandanya khas dan bagus banget buat spot foto. 

Sekian cerita liburannya :) Kalo inget ini rasanya pengen ngejelajah kota-kota lain di Indonesia deh, sama es krim Toko Oen nya ngangeniiinn. Kalo kalian ke Semarang, jangan lupa kunjungin tempat-tempat ini. Semoga nanti dapet kesempatan buat main-main ke Semarang lagi :)